Content

Jangan lupa dishare ya Guys!

fact-or-myth.jpg
22/May/2020

Haiii Gaes, apa kabarnya? Sudah memasuki penghujung bulan Ramadhan nih, masih di tengah Pandemi COVID-19 yang terjadi di hampir seluruh dunia.

Keterbatasan informasi seputar COVID-19 bahkan ketidakakuratan informasi yang beredar akhir-akhir ini tentunya akan menyulitkan setiap orang untuk mengetahui fakta yang sebenarnya.

Jika informasi yang tidak akurat tersebut terus beredar di masyarakat, hal ini akan membuat resah bahkan menyulitkan penanganan COVID-19. Masyarakat di seluruh dunia diharapkan hanya mengakses atau memperoleh informasi dari sumber-sumber terpercaya. World Health Organization (WHO) berharap agar mitos maupun informasi keliru yang beredar itu tidak meresahkan masyarakat.

Untuk itu, WHO memberikan berbagai penjelasan dan fakta untuk mematahkan mitos terkait COVID-19 yang beredar di masyarakat. Dari sekian banyak mitos yang beredar, berikut mitos dan fakta seputar COVID-19 :

  1. Mitos : Berjemur dengan suhu di atas 25 derajat Celcius bisa mencegah penyebaran COVID-19

Fakta : Berjemur di cahaya matahari atau dengan suhu di atas 25 derajat Celcius tidak dapat mencegah penyebaran virus COVID-19. Faktanya, negara tropis yang memiliki cuaca panas juga dikabarkan terjangkit COVID-19. Untuk melindungi diri dari bahaya penyebaran adalah dengan rutin mencuci tangan dan hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung

  1. Mitos : Mandi air panas bisa mencegah terkena virus COVID-19

Fakta : Mandi air panas tidak akan mencegah kita terkena virus COVID-19 , karena walaupun kita mandi dengan air panas suhu tubuh akan kembali ke suhu normal

  1. Mitos : Konsumsi minuman herbal seperti temulawak, jahe, serai, kunyit dapat mencegah tertular COVID-19

Fakta : Minuman herbal tersebut tidak dapat mencegah penularan COVID-19, namun bisa membantu tubuh melawan virus COVID-19. Kandungan curcumin didalamnya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh

  1. Mitos : Penyemprotan klorin atau alcohol pada kulit dapat membunuh virus dalam tubuh

Fakta : Menyemprotkan klorin atau alkohol ke tubuh dapat membahayakan, terutama jika terkena mata atau mulut. Meskipun Anda dapat menggunakan bahan kimia ini untuk mendisinfeksi permukaan, tetapi jangan pernah menggunakannya di kulit, karena tidak dapat membuh virus COVID-19 yang ada di dalam tubuh

  1. Mitos : Gejala COVID-19 mudah dikenali

Fakta : COVID-19 menyebabkan berbagai gejala, banyak diantaranya muncul seperti penyakit pernafasan lain, termasuk flu dan pilek. Secara khusus, gejala umum COVID-19 termasuk demam, batuk dan kesulitan bernafas, serta gejala yang lebih jarang, termasuk pusing, mual, muntah dan pilek. Dalam kasus yang parah, penyakit ini dapat berkembang menjadi radang paru-paru yang serius. Namun, pada awalnya orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali

  1. Mitos : Thermal Scanner bisa deteksi virus COVID-19

Fakta : Fungsi dari thermal scanner adalah untuk mendeteksi adanya peningkatan suhu, dan tentu saja alat ini tidak dapat mendeteksi virus COVID-19. Peningkatan suhu yang termasuk demam (38 derajat celcius keatas) adalah salah satu adanya infeksi. Kita tetap harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan tes laboratorium untuk mengetahui apakah kita terinfeksi virus COVID-19 atau tidak

  1. Mitos : Menahan napas selama 10 detik atau lebih tanpa batuk atau perasaan tidak nyaman, tandanya Anda terbebas dari COVID-19 atau penyakit pernapasan sejenis

Fakta : Bisa menahan napas selama 10 detik tidak berarti Anda terbebas dari COVID-19 atau penyakit pernapasan semacamnya. Gejala COVID-19 adalah batuk kering, kelelahan, dan demam. Beberapa orang bahkan bisa merasakan gejala-gejala tambahan lainnya, salah satunya adalah pneumonia. Cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang terjangkit corona atau tidak adalah dengan menjalani tes laboratorium.

  1. Mitos : Antiseptik tangan efektif bisa membunuh virus COVID-19

Fakta : Antiseptik tangan tidak 100% efektif untuk membunuh virus COVID-19. Ketika tangan kotor atau setelah melakukan aktivitas yang bisa menjadi penularan virus sebaiknya mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir

  1. Mitos : Covid-19 bisa menyebar lewat gigitan nyamuk

Fakta : Virus ini tidak dapat disebarkan melalui gigitan nyamuk. Virus hanya bisa ditularkan melalui tetesan penderita yang terinfeksi Covid-19.

  1. Mitos : Anak-anak tidak dapat tertular COVID-19

Fakta : Penyakit COVID-19 bisa terjadi pada siapapun tanpa memandang umur. Meskipun kasus COVID-19 yang terjadi pada anak lebih sedikit jika dibandingkan dengan orang dewasa

  1. Mitos : Terinfeksi corona berarti adalah akhir dari hidup Anda

Fakta : Anda bisa sembuh dari COVID-19. Terinfeksi Corona tidak berarti Anda akan membawa virus tersebut sepanjang hidup. Faktanya, banyak orang yang sudah terifeksi COVID-19 bisa pulih dan menghilangkan virus tersebut dari tubuhnya.

Gaes, dengan adanya penjelasan perihal Mitos dan Fakta terkait COVID-19 diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kalian yaa dan dapat diteruskan ke keluarga atau lingkungan terdekat kalian.

Stay Safe yaa Gaes, tetap ikuti peraturan pemerintah untuk tetap #dirumahaja.

Semoga Pandemi COVID-19 ini cepat selesai sehingga kita semua bebas melakukan aktivitas seperti biasa.


social-distance.jpg
24/Mar/2020

Hai gaes…..gimana kabarnya selama liburan ini?

Eh tepatnya bukan liburan ya, tapi belajar dari rumah. Ya, pemerintah Provinsi DKI dan Provinsi lainnya memang menerapkan aturan belajar di rumah bagi pelajar selama 14 hari untuk mencegah penularan COVID-19. Kenapa harus 14 hari ya ?

Mending kita ulas dulu yuuuk tentang COVID-19 ini…

Apa Itu COVID-19

Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 adalah penyakit baru yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan radang paru. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2).

Apa saja gejalanya?

Gejala klinis yang muncul beragam, mulai dari seperti gejala flu biasa (batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala) sampai yang berkomplikasi berat (pneumonia atau sepsis) yang biasanya bergejala sesak bahkan bisa koma.

Bagaimana COVID-19 Menular?

COVID-19 adalah penyakit baru dan para peneliti masih mempelajari bagaimana cara penularannya. Dari berbagai penelitian, metode penyebaran utama penyakit ini diduga adalah melalui droplet saluran pernapasan dan kontak dekat dengan penderita. Droplet merupakan partikel kecil dari mulut penderita yang dapat mengandung virus penyakit, yang dihasilkan pada saat batuk, bersin, atau berbicara. Droplet dapat melewati sampai jarak tertentu (biasanya 1 meter).

Droplet bisa menempel di pakaian atau benda di sekitar penderita pada saat batuk atau bersin. Namun, partikel droplet cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, orang yang sedang sakit, diwajibkan untuk menggunakan masker untuk mencegah penyebaran droplet. Untuk penularan melalui makanan, sampai saat ini belum ada bukti ilmiahnya.

Untuk Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah telah terjadi transmisi lokal, artinya infeksi yang didapat bukan  berasal dari luar negeri, melainkan dari penderita Corona positif di dalam negeri.

Bagaimana cara kita melindungi diri dari COVID-19???

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah atau membantu menghentikan penyebaran coronavirus, antara lain:

Hal yang Harus Dilakukan

  1. Tutupi mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan tissue. Buang tissue pada tempat sampah tertutup
  2. Bersihkan dan lakukan disinfeksi permukaan benda yang sering disentuh
  3. Kenakan masker hanya jika Anda sakit. Ganti secara berkala dan tetap tinggal di rumah atau segera ke fasilitas kesehatan
  4. Cuci tangan dengan sabun dan air minimal 20 detik atau gunakan hand sanitizer berbasis alcohol minimal 60%
  5. Terapkan pola hidup sehat dengan makanan bergizi dan olahraga

Selain itu, apabila ada gejala mirip COVID19, yang perlu dilakukan adalah :

  1. Hubungi nomor layanan COVID19 di 112, 081 112 112 112, 081 388 376 955
  2. Kenakan masker (tipe masker bedah) dan ganti secara berkala agar tidak menular ke orang lain
  3. Batasi menerima tamu di rumah, hindari kontak langsung dengan tamu untuk mencegah penyebaran virus yang lebih luas
  4. Tetap tinggal di rumah jaga jarak dengan orang lain termasuk anggota keluarga
  5. Minta bantuan teman, anggota keluarga, atau layanan jasa lain untuk menyelesaikan urusan di luar rumah
  6. Lakukan semua hal ini selama 14 hari untuk membantu mengurangi penyebaran virus karena sampai saat ini belum ditemukan obat khusus untuk pasien COVID19. Perawatan yang tersedia saat ini bertujuan untuk meringankan gejala. Pasien harus tetap terisolasi dari orang lain sampai benar-benar pulih

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan

  1. Berada dekat dengan orang yang sedang sakit, batuk atau bersin
  2. Menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan telapak tangan
  3. Menimbun masker

Terus kenapa kita harus belajar di rumah selama 14 hari?

Pada tanggal 14 Maret 2020  atas masukan dari Ikatan Dokter Indonesia DKI Jakarta, Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan WHO Indonesia, Pemerintah Provinsi memutuskan untuk menutup semua sekolah di lingkungan Provinsi DKI Jakarta dan melakukan proses belajar mengajar metode jarak jauh. Harus 14 hari karena masa penularan virus corona (COVID-19) itu minimal 2-14 hari sampai muncul gejala. Artinya orang yang terinfeksi bisa saja tetap merasa sehat dan berisiko menularkannya kepada orang lain. Nah jika kamu tetap bepergian ke luar (misalnya ke tempat bermain, mall, tempat rekreasi, rumah teman, bioskop, pasar, supermarket, dll) pada hari ke 8, seandainya kamu tertular di hari ke 8 itu dari orang lain atau tempat yang dikunjungi, mungkin di hari ke-14 belum ada tanda-tanda sakit. Di hari ke-15 saat kamu mulai masuk sekolah lagi virus tersebut bisa saja tertular ke teman temanmu yang lain.

Tempat apa saja yang harus dihindari?

Prinsipnya tempat dimana banyak orang orang berkumpul, seperti fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes), pasar, mall, tempat rekreasi, tempat ibadah, dll.

Untuk Fasyankes seperti Puskesmas dan RS kamu sebaiknya menunda datang ke tempat tersebut untuk keluhan keluhan yang masih bisa ditunda, dan kamu bisa mengatasi dengan hal hal sederhana yang bisa didapat di rumah seperti obat tradisional atau obat yang ada di kotak P3K rumahmu

Sementara untuk hal hal yang sifatnya mendesak atau gawat darurat kamu bisa langsung pergi ke Fasyankes, nah…apa saja itu?

Terus apa saja yang bisa dilakukan selama 14 hari ini ? Banyak kok hal hal positif yang bisa kamu lakukan di dalam rumah, misalnya bermain bersama saudara, menekuni hobbi yang bisa dilakukan di rumah (membaca, main musik, melukis, menulis, dan lain lain), membantu orang tua, atau hal positif lainnya atau kamu copy link berikut :

file:///C:/Users/User/Downloads/50+%20Ide%20Main%20Tanpa%20Printable.pdf

file:///C:/Users/User/Downloads/Storybook%20GEMBIRA%20BERSAMA%20AYAH%20IBU%20rev%20F.pdf.pdf

file:///C:/Users/User/Downloads/Activity%20Book%20GEMBIRA%20BERSAMA%20AYAH%20IBU-ALLvers_Rev6.pdf.pdf

file:///C:/Users/User/Downloads/15%20Printable%20@grace.melia.pdf

file:///C:/Users/User/Downloads/E-Book%20Kompilasi%20Tips%20Ide%20Kegiatan.pdf

www.coronajakarta.go.id

 

 


TBC-500x500.jpg
11/Jul/2019

Apa itu TB?

A. Tuberkulosis (TB) atau yang dulu dikenal TBC adalah penyakit menular

langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).

TB bukan disebabkan oleh guna-guna atau kutukan. TB juga bukan

penyakit keturunan. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi

dapat juga mengenai organ atau bagian tubuh lainnya (misalnya: tulang,

kelenjar, kulit, dll).

B. TB dapat menyerang siapa saja, terutama menyerang usia produktif/

masih aktif bekerja (15-50 tahun) dan anak-anak. TB dapat menyebabkan

kematian. Apabila tidak diobati, 50% dari pasien akan meninggal setelah 5

tahun.

TB BUKAN PENYAKIT KETURUNAN,

BUKAN DISEBABKAN OLEH KUTUKAN

DAN BUKAN PULA KARENA GUNA-GUNA….. !!!

Kuman TB dapat bertahan hidup selama

beberapa jam dalam ruangan yang tidak terkena

sinar matahari.

Apa Saja yang Menjadi Faktor Risiko Penularan TB

  1. Pasien TB paru dengan BTA positif lebih berisiko menularkan
  2. Jumlah percikan dahak dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
  3. Kontak erat dengan pasien TB,
  4. Tinggal di daerah padat penduduk, Ventilasi rumah tidak mampu meggerakkan udara keluar dan sinar matahari tidak masuk.
  5. Tempat orang berkumpul (Tempat kerja, Asrama/pesantren, Sekolah, Pengajian)
  6. Orang yang bekerja dengan bahan kimia yang ber-risiko menimbulkan paparan infeksi paru
  7. Orang dengan penyakit HIV dan/atau DM lebih mudah menjadi sakit TB
  8. Orang dengan status gizi rendah

 

 

 

 


artworks-000146583419-m67y2u-t500x500.jpg
11/Jul/2019

Kusta, yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit Hansen, adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa.

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita.

Description: Leprosy - alodokter

Penemuan kasus baru untuk penyakit kusta di Indonesia tergolong tinggi. Indonesia menempati uratan ketiga, setelah India dan Brasil, untuk penemuan kasus baru penyakit kusta pada tahun 2015. Sebenarnya kusta adalah penyakit yang dapat diobati, namun adanya stigma negatif di masyarakat seringkali menyebabkan munculnya diskriminasi terhadap penderitanya. Stigma negatif dan diskriminasi ini berakibat kepada penemuan kasus baru dan pengobatan yang tertunda.

Gejala Kusta

Gejala dan tanda kusta tidak nampak jelas dan berjalan sangat lambat. Bahkan, gejala kusta bisa muncul 20 tahun setelah bakteri berkembang biak dalam tubuh penderita. Beberapa di antaranya adalah:

  • Mati rasa, baik sensasi terhadap perubahan suhu, sentuhan, tekanan ataupun rasa sakit.
  • Muncul lesi pucat dan menebal pada kulit.
  • Muncul luka tapi tidak terasa sakit.
  • Pembesaran saraf yang biasanya terjadi di siku dan lutut.
  • Kelemahan otot sampai kelumpuhan, terutama otot kaki dan tangan.
  • Kehilangan alis dan bulu mata.
  • Mata menjadi kering dan jarang mengedip, serta dapat menimbulkan kebutaan.
  • Hilangnya jari jemari.
  • Kerusakan pada hidung yang dapat menimbulkan mimisan, hidung tersumbat, atau kehilangan tulang hidung.

Penyebab Kusta dan Faktor Risiko

Kusta disebakan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini tumbuh pesat pada bagian tubuh yang bersuhu lebih dingin seperti tangan, wajah, kaki, dan lutut.

M. leprae termasuk jenis bakteri yang hanya bisa berkembang di dalam beberapa sel manusia dan hewan tertentu. Cara penularan bakteri ini diduga melalui cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara ketika penderita batuk atau bersin, dan dihirup oleh orang lain. Namun penyakit ini tidak mudah untuk ditularkan, perlu beberapa bulan kontak yang sering dengan penderita kusta, sehingga penyakit ini dapat ditularkan.

Sebelum ditemukan pada tahun 1873 bahwa kusta disebabkan oleh kuman, penyakit ini sangat erat dengan stigma negatif, yaitu suatu hukuman atau kutukan yang diberikan kepada penderita karena dosa atau kesalahan yang diperbuat oleh orang tersebut. Dampak stigma tersebut berlanjut hingga saat ini, sehingga penderita seringkali mengalami diskriminasi dan dikucilkan dari kehidupan sosial.

Perlu ditekankan bahwa kusta adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman dengan penderita, duduk bersebelahan dengan penderita, duduk bersama di meja makan, atau bahkan berhubungan seksual dengan penderita. Kusta juga tidak ditularkan dari ibu ke janin.

Ada beberapa faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini. Beberapa faktor risiko tersebut di antaranya adalah:

  • Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa sarung tangan. Hewan perantara tersebut di antaranya adalah armadillo dan simpanse.
  • Bertempat tinggal di kawasan endemik kusta.
  • Memiliki kelainan genetik yang berakibat terhadap sistem kekebalan tubuh.

Diagnosis Kusta

Kebanyakan kasus kusta dapat didiagnosis berdasarkan temuan klinis berupa kelainan bercak pucat atau merah pada kulit yang mati rasa dan penebalan saraf. Setelah itu dapat dilakukan kerokan kulit (skin smear). Pada daerah dengan angka kejadian tinggi, diagnosis dapat ditegakan walaupun pemeriksaan kerokan kulit menunjukkan hasil negatif, sesuai dengan klasifikasi WHO terhadap penyakit kusta, yaitu:

  • Paucibacillary. Ada lesi kulit dengan kerokan kulit negatif.
  • Multibacillary. Ada lesi kulit dengan kerokan kulit postif.

Kerokan kulit yang positif maksudnya adalah ditemukan bakteri saat diperiksa di bawah mikroskop.

Pengobatan Kusta

Penderita kusta akan diberi kombinasi antibiotik selama 6 bulan hingga 2 tahun. Jenis, dosis, dan durasi penggunaan antibiotik ditentukan berdasarkan jenis kusta. Beberapa contoh antibiotik yang digunakan untuk pengobatan kusta adalah rifampicindapsone, dan clofazimine.

Pembedahan umumnya dilakukan sebagai proses lanjutan setelah pengobatan antibiotik. Tujuan prosedur pembedahan bagi penderita kusta adalah untuk:

  • Menormalkan fungsi saraf yang rusak.
  • Memperbaiki bentuk tubuh penderita yang cacat.
  • Mengembalikan fungsi anggota tubuh.

WHO berusaha keras untuk mengurangi banyaknya penderita kusta. Hal tersebut dilakukan mulai dari memastikan setiap negara ikut andil dalam usaha ini, secara aktif mendeteksi penderita kusta dan mengobatinya, hingga turut serta dalam meluruskan stigma dan mencegah diskriminasi terhadap penderita. Tanpa adanya stigma dan diskriminasi, diagnosis akan ditegakkan secara cepat, sehingga pengobatan tidak tertunda dan kecacatan akibat kusta juga dapat dicegah.

Pencegahan Kusta

Gerakan terpadu untuk memberikan informasi mengenai penyakit kusta terhadap masyarakat, terutama di daerah endemik, merupakan langkah yang penting dalam mendorong para penderita untuk mau memeriksakan diri, mendapatkan pengobatan, dan agar mereka tidak dikucilkan oleh masyarakat. Sampai dengan saat ini belum ada vaksin untuk mencegah kusta. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat merupakan pencegahan yang paling baik untuk mencegah kecacatan dan mencegah penularan lebih luas.

 


Missing-Parent-600x600.jpeg
11/Jul/2019

Sesuai namanya, penyakit menular seksual menyebar melalui hubungan intim, baik secara vaginal, anal, maupun oral. Tidak hanya hubungan intim, penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah dan berbagi jarum suntik dengan penderita. Infeksi juga dapat ditularkan dari ibu hamil ke janin, baik selama kehamilan atau saat persalinan.

Penyebab IMS adalah :

  1. Bakteri (kuman)
  • Kencing nanah (Gonorrhoe)
  • Raja singa (Sifilis)
  • Ulkus Mole
  • Keputiha
  • Klamidia

 

2. Virus

  • Herpes
  • Kutil kelamin (Jengger Ayam)
  • HIV & AIDS

 

3. Jamur

  • Candidiasis
  • Keputihan

 

4. Parasit

  • Kutu kelamin

 

Ciri Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual tidak selalu menimbulkan gejala atau bisa hanya menyebabkan gejala ringan. Oleh karena itu, tidak heran beberapa orang baru mengetahui dirinya menderita penyakit menular seksual setelah muncul komplikasi atau ketika pasangannya terdiagnosis menderita penyakit menular seksual.

Gejala yang dapat muncul akibat penyakit menular seksual akan berbeda-beda tergantung jenis penyakitnya, namun umumnya berupa:

  • Rasa sakit (saat berkemih) atau gatal di kelamin
  • Muncul benjolan, bitnik atau luka disekitar kelamin
  • Keluar cairan yang tidak biasa dan bau dari alat kelamin
  • Terjadinya pembengkakan (pada pria di testis dan pada wanita di bawah perut)
  • Disertai dengan demam, sakit dan nyeri
  • Rasa sakit dibagian dalam alat kelamin ketika melakukan hubungan seksual..

Selain beberapa gejala di atas, wanita juga bisa merasakan gejala lain, yaitu perdarahan di luar masa menstruasi dan muncul bau tidak sedap dari vagina. Pada wanita, luka IMS seringkali terjadi di leher Rahim, jauh di dalam, sehingga tidak kelihatan.

Apa yang harus dilakukan bila mengalami gejala seperti di atas

  1. Segera ke Dokter

Dokter akan memastikan penyakitnya apa dan melakukan pengobatan yang sesuai. Jangan menangani penyakit dengan perkiraan sendiri.

2. Jangan mengobati sendiri

Jangan mengobati sendiri, minum anti biotik tanpa resep dokter dan jamu-jamuan sembarangan justru akan membuat lebih parah

3. Minum obat sesuai anjuran dokter

Beberapa gejala mungkin akan hilang setelah minum sebagian obat, tetapi bukan berarti sudah sembuh. Untuk itu obat harus digunakan sesuai dengan resep dokter, jika dianjurkan habis, maka harus dihabiskan. Ketidak patuhan meminum obat akan membuat penyakit menjadi sulit disembuhkan karena kebal

4. Ajak pasangan berobat

Bila mengidap IMS kita menularkan atau tertular dari pasangan kita, bila tidak sama-sama diperiksa penyakit (IMS) akan sulit sembuh

Macam-Macam Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, dan parasit. Berikut ini adalah macam-macam penyakit menular seksual:

  1. Sifilis

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit yang juga dikenal dengan sebutan “raja singa” ini menimbulkan luka pada alat kelamin atau mulut. Melalui luka inilah penularan akan terjadi

2. Gonore

Gonore yang dikenal juga dengan kencing nanah, disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari penis atau vagina dan rasa nyeri ketika buang air kecil. Bakteri penyebab gonore juga dapat menimbulkan infeksi di bagian tubuh lain, jika terjadi kontak dengan sperma atau cairan vagina.

3. Human papillomavirus (HPV)

Infeksi menular seksual ini disebabkan oleh virus dengan nama yang sama, yaitu HPV. Virus HPV dapat menyebabkan kutil kelamin hingga kanker serviks pada perempuan. Penularan HPV terjadi melalui kontak langsung atau melakukan hubungan seksual dengan penderita.

4. Infeksi HIV

Infeksi HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Penyebaran virus ini dapat terjadi melalui hubungan seks tanpa kondom, berbagi penggunaan alat suntik, transfusi darah, atau saat persalinan.

5. Chlamydia

Penyakit infeksi menular seksual ini disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Pada wanita, Chlamydia menyerang leher rahim. Sedangkan pada pria, menyerang saluran keluar urine di penis. Penularan dapat terjadi dari luka pada area kelamin.

6. Trikomoniasis

Penyakt menular seksual ini disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Penyakit Trikomoniasis bisa menimbulkan keputihan pada wanita atau malah tidak menimbulkan gejala, sehingga sering kali seseorang secara tidak sadar menularkan penyakit ini ke pasangan seksualnya.

7. Hepatitis B dan hepatitis C

Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis, dan dapat mengakibatkan gangguan hati kronis hingga kanker hati. Virus ini ditemukan dalam darah atau cairan tubuh penderita. Selain melalui hubungan seksual, virus ini bisa menular melalui jarum suntik yang dipakai bersama dan transplantasi organ.

8. Herpes genital

Herpes Genetal disebabkan oleh infeksi virus. Virus ini bersifat tidak aktif atau bersembunyi di dalam tubuh tanpa menyebabkan gejala. Penyebarannya terjadi melalui kontak langsung dengan pasangan yang telah terinfeksi.

9. Candidiasis

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Candida.Candidiasis ditandai dengan ruam atau lepuhan yang muncul pada kulit, terutama area lipatan kulit. Sama seperti infeksi menular seksual lainnya, penularan penyakit ini dapat terjadi melalui hubungan seksual dengan penderita.

Bagaimana cara mencegah Penyakit Menular Seksual

Langkah utama pencegahan penyakit menular seksual adalah menerapkan perilaku seks yang aman, yaitu menggunakan kondom dan tidak bergonta-ganti pasangan seksual.

Selain itu, ada beberapa tindakan pencegahan lain yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Kenali pasangan seksual masing-masing.
  • Lakukan vaksinasi, terutama vaksin HPV dan hepatitis B.
  • Tidak menggunakan NAPZA, terutama dengan berbagi penggunaan jarum suntik.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, khususnya yang berkaitan dengan organ reproduksi.

Penderita penyakit menular seksual sebaiknya tidak melakukan hubungan seks hingga penyakit dinyatakan sembuh oleh dokter. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit kepada pasangan.

 

 


kanker-serviks.jpg
11/Jul/2019

Hai Gaes, ada yang sudah pernah dengar tentang kanker serviks? Apa sih kanker serviks itu?

Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim. Umumnya, kanker serviks tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Gejala baru muncul saat kanker sudah mulai menyebar. Dalam banyak kasus, kanker serviks terkait dengan infeksi menular seksual. Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling mematikan pada wanita, selain kanker payudara.

Penyakit kanker serviks itu ada tahapannya lho gaes

Tahap atau tahapan digunakan untuk menjelaskan tingkat penyebaran kanker. Semakin tinggi tahapan kanker, maka semakin luas penyebarannya. Berikut ini adalah tahapan kanker serviks berdasarkan penyebarannya:

Tahapan 1

  • Sel kanker tumbuh di permukaan leher rahim, tetapi belum menyebar ke luar rahim.
  • Terdapat kemungkinan kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, namun belum menyerang organ di sekitarnya.
  • Ukuran kanker bervariasi, bahkan bisa lebih dari 4 cm.

 

 Tahapan 2

  • Kanker sudah menyebar ke rahim, namun belum menyebar hingga ke bagian bawah vagina atau dinding panggul.
  • Terdapat kemungkinan kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, namun belum menyerang organ di sekitarnya.
  • Ukuran kanker bervariasi, bahkan bisa lebih dari 4 cm.

 

Tahapan 3

  • Kanker sudah menyebar ke bagian bawah vagina, serta menekan saluran kemih dan menyebabkan hidronefrosis.
  • Terdapat kemungkinan kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, namun belum menyerang organ di sekitarnya.

 

Tahapan 4

  • Kanker telah menyebar ke organ lain, seperti kandung kemih, hati, paru-paru, usus, atau tulang.

 

Tahukah kalian? 

Penelitian mengungkapkan bahwa angka harapan hidup pada penderita kanker serviks tergantung tahapan yang dialami. Meskipun demikian, angka harapan hidup hanya hitungan persentase penderita yang masih hidup, lima tahun setelah didiagnosis menderita kanker serviks.

Sebagai contoh, angka harapan hidup 80% berarti 80 dari 100 penderita bertahan hidup 5 tahun setelah terdiagnosis kanker serviks. Perlu diketahui, banyak penderita yang hidup lebih dari 5 tahun setelah didiagnosis kanker serviks. Berikut adalah angka harapan hidup pada penderita kanker serviks berdasarkan tahapan yang dialami:

  • Tahapan 1 – 80-93%
  • Tahapan 2 – 58-63%
  • Tahapan 3 – 32-35%
  • Tahapan 4 – 15-16%

 

Penyebab

Hampir semua kasus kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus atau disingkat HPV. Ada lebih dari seratus jenis HPV, tapi sejauh ini hanya ada kira-kira 13 jenis virus yang bisa jadi penyebab kanker serviks. Virus ini sering ditularkan melalui hubungan seksual.

Beberapa jenis HPV tidak menyebabkan gejala sama sekali. Namun, sebagian jenis bisa menyebabkan kutil pada kelamin, dan beberapa bisa jadi penyebab kanker serviks. Hanya dokter yang bisa mendiagnosis dan memastikan seberapa bahaya jenis HPV yang Kamu alami.

Jenis infeksi HPV ini tidak menyebabkan gejala apa pun, sehingga banyak wanita tidak menyadari mereka memiliki infeksi. Faktanya, kebanyakan wanita dewasa sebenarnya pernah menjadi “tuan rumah” HPV pada saat tertentu dalam hidup mereka.

HPV dapat dengan mudah ditemukan melalui tes pap smear. Inilah mengapa tes pap smear sangat penting untuk mencegah kanker serviks. Tes pap smear mampu mendeteksi perbedaan pada sel serviks sebelum berubah menjadi kanker. Jika Kamu menangani perubahan sel tersebut, Kamu dapat melindungi diri dari kanker leher rahim.

 

Bagaimana cara mendiagnosis kanker serviks (kanker leher rahim)?

  • Papsmear
  • Iva Test
Penyebab kematian terbanyak penyakit kanker

Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mengobati kanker rahim?

  1. Operasi

Tindakan ini akan mengangkat bagian yang terinfeksi kanker. 

  • Radical trachelectomy – serviks, jaringan sekitar dan bagian atas vagina diangkat,  namun rahim tetap pada tempatnya sehingga Kamu masih bisa punya anak. Karena itulah tindakan bedah ini biasanya jadi prioritas untuk wanita yang memiliki kanker serviks tahap awal dan masih mau punya anak.
  • Histerektomi – serviks dan rahim diangkat, tergantung pada tahap kanker, mungkin diperlukan untuk mengangkat indung telur dan tuba falopi. Kamu sudah tidak bisa memiliki anak lagi jika Kamu melakukan histerektomi.
  • Pelvic exenteration – operasi besar di mana serviks, vagina, rahim, kemih, indung telur, tuba falopi dan rektum diangkat. Seperti histerektomi, Kamu sudah tidak bisa punya anak lagi setelah menjalani pembedahan ini.
  1. Radioterapi

Pada tahap awal kanker serviks, Kamu dapat ditangani dengan radioterapi atau dikombinasikan dengan operasi. Kemudian, apabila kanker sudah pada tahap lanjut, dokter dapat merekomendasi radioterapi dengan kemoterapi untuk mengurangi perdarahan dan rasa sakit pada pasien.

Pada prosedur ini, tubuh Kamu dipaparkan dengan radiasi. Sumber radiasi dapat berasal dari eksternal, dengan mesin yang memancarkan radiasi pada tubuh Kamu, atau secara internal. Dengan metode internal, sebuah implan akan dipasang ke dalam tubuh Kamu untuk memberi radiasi. Ada beberapa kasus di mana 2 metode ini dikombinasikan. Rangkaian radioterapi biasanya berlangsung selama 5 hingga 8 minggu.

  1. Kemoterapi

Kemoterapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan radioterapi untuk menangani kanker serviks. Pada kanker tahap lanjut, metode ini sering digunakan untuk mencegah pertumbuhan kanker. Kamu akan membuat janji untuk mendapatkan dosis kemoterapi melalui infus.

Semua penanganan kanker serviks dapat memiliki efek samping. Kamu harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dokter. Kamu mungkin akan mengalami menopause dini, penyempitan pada vagina, atau limfedema setelah menjalani perawatan kanker leher rahim.

Pencegahan

Apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker serviks (kanker leher rahim)?

Berikut adalah perubahan gaya hidup yang dapat membantu Kamu mencegah kanker serviks terjadi pada Kamu:

  • Berbicara dengan keluarga, teman-teman atau konselor dapat membantu. Kamu juga dapat menanyakan dokter mengenai komunitas penyintas (survivor) dan pengidap kanker serviks.
  • Tes pap smear adalah cara terbaik untuk menemukan perubahan sel serviks atau HPV pada serviks. Penting untuk melakukan follow up dengan dokter setelah hasil tes pap smear yang abnormal agar Kamu dapat mendapatkan perawatan dengan tepat waktu.
  • Jika Kamu berusia di bawah 26 tahun, Kamu dapat mendapatkan vaksin HPVyang dapat melindungi dari 2 jenis HPV 16 dan HPV 18, jenis HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.
  • Hindari terinfeksi HPV dengan melakukan hubungan seks yang aman, dengan menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • Untuk mencegah kanker berkembang ke tahap tahapan yang lebih serius, Kamu perlu menjalani gaya hidup sehat. Misalnya dengan menjaga pola makan bernutrisi seimbang, rajin berolahraga sesuai dengan kemampuan dan saran dokter, istirahat yang cukup, mengelola stres, berhenti merokok dan minum alkohol, serta mengurangi paparan zat berbahaya misalnya dari polusi, pestisida, dan makanan kemasan.

Pengenalan penyakit kanker serviks

logo-long

Alo Gaes merupakan media komunikasi yang berisi info-info kesehatan remaja, mulai dari isu pubertas, gizi, hingga kesehatan mental. Alo Gaes juga bisa lho sebagai sarana kamu berkonsultasi singkat atau tanya-tanya soal kesehatan fisik maupun mental dari ahlinya langsung. Kami juga terbuka untuk kamu-kamu yang mau kirim artikel atau hasil karya lain lho.

WhatsApp chat
Ka Rami - Kesehatan Jiwa Ka Irma - Kesehatan Remaja Ka Micca - Penyakit Tidak Menular Ka Mira - TB Paru Ka Agnes - HIV Ka Pandji - Perawat Ka Dadang - Perawat Ka Desi - Gizi Ka Ery - Kesehatan Ibu dan Anak Ka Priska - Apoteker Ka Aulia - Kesehatan Mulut dan Gigi Teledentistry - Kesehatan Mulut dan Gigi