Content

Jangan lupa dishare ya Guys!

Y1.jpg
14/Oct/2020

Halooo Gaes, apa kabar semua? Semoga tetap sehat semua ya walaupun pandemi masih melanda negeri tercinta kita ini, sehingga kita bisa menjalani siklus kehidupan kita dengan aman.

Ngomongin siklus hidup, kita semua tahu ya bahwa manusia itu mengalami siklus hidup sejak dari dalam kandungan, bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, lansia, dan akhirnya kembali pada Sang Pencipta.

Nah, kalian sekarang berada di fase remaja dan sebentar lagi memasuki fase dewasa. Pada umumnya pada fase dewasa muda manusia melakukan pernikahan agar bisa meneruskan keturunannya di alam semesta ini dengan bereproduksi.

Untuk tujuan mulia ini, artikel kita kali ini akan membahas persiapan aja sih yang harus disiapkan menjelang pernikahan? Pastinya banyak ya. Khusus bahasan ini, kita hanya akan membahas persiapan pranikah dari sisi kesehatan, yaitu kesehatan fisik dan mental. Simak sampai tuntas yaaaa..

Kesehatan Fisik

Setiap calon pengantin, khususnya di DKI Jakarta, diwajibkan menjalani konseling dan tes kesehatan sebelum melakukan pernikahan. Persyaratan ini tercantum dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Nomor 185 Tahun 2017 Tentang Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin. Pemeriksaan ini tidak dipungut biaya lho, dapat dilakukan di puskesmas dan menjadi syarat untuk mengurus pengantar menikah dari kelurahan.

Kegiatan ini merupakan bagian upaya pemenuhan hak reproduksi dan upaya meningkatkan derajat kesehatan, khususnya kesehatan ibu, sehingga dapat berkontribusi pada percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Jadi calon ibu yang sehat nantinya akan melahirkan anak-anak yang sehat yang akan menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.

Lalu, apa saja yang dilakukan saat melakukan konseling dan pemeriksaan kesehatan di puskesmas?

1. Anamnesis (wawancara oleh tenaga kesehatan)

Dilakukan untuk memperoleh keterangan-keterangan tentang keluhan dan penyakit yang diderita calon pengantin, baik riwayat penyakit terdahulu dan riwayat kesehatan keluarga.

2. Deteksi Dini Masalah Kesehatan Jiwa

Salah satu cara untuk mendeteksi masalah kesehatan jiwa yang relatif murah, mudah dan efektif adalah dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh WHO, yaitu Self Reporting Questionnaire (SRQ). Dalam SRQ ada 29 pertanyaan terkait gejala gangguan mental yang harus dijawab klien dengan jawaban ya atau tidak.

3. Pemeriksaan Fisik

Dilakukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi status kesehatan melalui pemeriksaan denyut nadi, frekuensi nafas, tekanan darah, suhu tubuh dan pemeriksaan seluruh tubuh. Selain itu dilakukan juga pemeriksaan status gizi yang meliputi pengukuran berat badan, tingggi badan, lingkar lengan atas dan tanda-tanda anemia.

4. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang (laboratorium) yang diperlukan oleh calon pengantin yaitu pemeriksaan darah: Hb, golongan darah dan Rhesus, gula darah, HIV, Infeksi Menular Seksual (sifilis), Hepatitis B,  dan atau pemeriksaan lain sesuai indikasi.

5. Konseling untuk meningkatkan pengetahuan calon pengantin

Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan , kesadaran dan kepedulian calon pengantin sehingga menjalankan fungsi dan perilaku reproduksi yang sehat dan aman.

Konseling diberikan sesuai kebutuhan calon pengantin meliputi :

  1. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
  2. Pengetahuan tentang kehamilan, pencegahan komplikasi, persalinan dan pasca salin
  3. Status kesehatan, gizi dan imunisasi
  4. Infeksi menular seksual serta HIV dan AIDS
  5. Deteksi Dini Kanker leher rahim dan kanker payudara
  6. Konseling HIV
  7. Konseling mengenai penyakit menular seperti Sifilis, Hepatitis, dll.
  8. Konseling Gizi
  9. Konseling kesehatan mental

6. Imunisasi untuk Calon pengantin

Calon pengantin perempuan perlu mendapat imunisasi TD untuk mencegah dan melindungi dirinya terhadap penyakit tetanus dan difteri sehingga memiliki kekebalan seumur hidup untuk melindungi ibu dan bayi yang akan dilahirkannya terhadap penyakit tetanus dan difteri

7. Pengobatan/Terapi dan rujukan

Pengobatan atau terapi diberikan pada calon pengantin sesuai dengan diagnosis/permasalahannya. Tatalaksana ini dapat diberikan di puskesmas maupun dilakukan rujukan ke RS bila permasalahannya tidak dapat diatasi di puskesmas.

Selesai melalukan pemeriksaan , calon pengantin akan mendapat secarik Sertifikat Layak Kawin‘.

Mau tahu syarat melakukan konseling dan pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin? Yuk hubungi  Call Center Puskesmas Kecamatan kembangan di Whats App 0811-1848-483 dan untuk mendaftar layanan konseling dan pemeriksaan kesehatan calon pengantin di Puskesmas Kecamatan Kembangan dapat melalui bit.ly//jalincinta 

Kesehatan Mental

Persiapan yang ga kalah pentingnya dibanding persiapan kesehatan fisik, yaitu kesehatan mental.

Mengarungi kehidupan rumah tangga tentunya bukan hal mudah, pasangan perlu belajar untuk :

  • Saling beradaptasi
  • Mendengar secara aktif
  • Identitas bukan lagi aku atau kamu, tetapi “kita”
  • Bersikap hangat dan mampu membina kedekatan emosional
  • Saling bergantung dan mengisi dalam situasi apapun
  • Saling percaya satu sama lain
  • Mengenali kebutuhan diri sendiri, pasangan, dan kebutuhan bersama
  • Melakukan komunikasi 2 arah

Terdengar mudah ya untuk disampaikan, namun belum tentu mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu kedua pasangan harus dapat saling menjaga rasa kebersamaan dengan :

  • Berani mengekspresikan pikiran dan perasaan
  • Tulus menyayangi dan mengasihi
  • Yakin dalam relasi bersama pasangan
  • Mampu memberikan rasa aman
  • Terbuka terhadap saran dan masukan dari pasangan
  • Bersedia berbagi tugas dan tanggung jawab

Hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengenali :

  1. Diri Sendiri
  • Kelebihan dan kekurangan diri
  • Sumber daya yang dimiliki
  • Cara pandang dan cara penyelesaian konflik
  • Cara memanfaatkan waktu luang
  • Pengelolaan emosi
  • Pengelolaan keuangan
  • Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga
  • Kebiasaan sehari-hari
  • Bahasa cinta
  • Harapan/impian
  1. Pasangan
  • Kelebihan dan kekurangan diri
  • Sumber daya yang dimiliki
  • Cara pandang dan cara menyelesaikan konflik
  • Cara memanfaatkan waktu luang
  • Pengelolaan emosi
  • Pengelolaan keuangan
  • Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga
  • Kebiasaan sehari-hari
  • Bahasa cinta
  • Harapan/impian
  1. Kita
  • Alasan mengapa ingin bersama
  • Tetapkan tujuan yang ingin dicapai bersama
  • Cara mencapai tujuan
  • Cara memanfaatkan waktu luang
  • Pembagian peran, tugas, dan tanggung jawab
  • Pengelolaan keuangan
  • Pengasuhan anak
  • Harapan/impian bersama

By the way…. Ada satu lagi informasi yang ga kalah penting ni, yaitu telah diterbitkannya Undang Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang “PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN. Dalam Undang Undang ini ada pasal yang diubah yaitu pasal 7 yang berbunyi “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun”.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah mengeluarkan Peraturan Gubernur yang senada, yaitu melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 tahun 2020 tentang “Pencegahan Perkawinan Pada Usia Anak”

Dengan dasar adanya 2 peraturan ini Puskesmas Kecamatan Kembangan tidak dapat melakukan Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin yang belum berusia 19 tahun.

So…. Buat kamu-kamu yang belum genap berusia 19 tahun,  woles aja ya gaes….Masih banyak hal positif yang bisa kamu lakukan sambil kamu memantapkan dan menyiapkan diri kamu untuk nantinya memasuki gerbang pernikahan, tentunya pernikahan sehat yang akan melahirkan generasi yang sehat juga 😉


mental.jpg
02/Apr/2020

Hai Gaes, apa kabarnya? Di tengah situasi pandemic ini semoga kalian tetap sehat yaa. Bagaimana belajar di rumahnya?

Sebelumnya kan kita udah bahas tentang penyakit dari virus Covid-19, bagaimana dampaknya dengan kalian? Ada yang merasa stress ga? Mencari tahu informasi mengenai Covid-19 itu penting banget lho, supaya kita tetap waspada, tapi sebaiknya juga jangan berlebihan. Kenapa memang? Yuk kita baca ulasan berikut ini.

Hubungan antara Pikiran, Perasaan, dan Sensasi Tubuh / Fisik

  • Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa kesehatan fisik berhubungan erat dengan kesehatan mental. Begitu pula sebaliknya.
  • Di kondisi pandemic covid-19 ini, munculnya perasaan cemas dan takut merupakan hal yang normal
  • Cemas dan takut merupakan salah satu tanda pertahanan diri
  • Kedua emosi tersebut membuat kita lebih waspada terhadap bahaya memunculkan stress

Apa itu Stres?

  • Stres adalah pengalaman emosional yang disertai dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif, dan perilaku yang diarahkan baik untuk mengubah peristiwa yang dianggap stresful dan untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan
  • Stressor adalah stimulus, penyebab, atau hal-hal yang memunculkan stres
  • Stres dibagi menjadi 2, yakni eustress dan distres
  • Eustress : stress positif yang mengarahkan diri lebih optimal dan semangat, dilingkupi oleh emosi yang positif, masih dapat berfungsi dengan baik dan menjalankan aktivitasnya sehari-hari, contoh perilakunya adalah membaca berita tentang COVID19 dari sumber yang terpecaya sehingga tidak mudah terpancing oleh berita yang belum jelas kebenarannya.
  • Distress : Stress yang dapat mengganggu keberfungsian hidup, biasanya dilingkupi oleh emosi negative terus-menerus, keberfungsian hidup dan aktivitas sehari-hari menurun, contoh perilakunya adalah tidak mau mandi, tidak mau makan, tidak dapat membedakan mana info hoax mana yang bukan

Distress dapat mengganggu kesehatan

  • Distres menimbulkan efek fisiologis pada tubuh, seperti tekanan darah tinggi, imun tubuh menurun sehingga tubuh kesulitan untuk melawan infeksi
  • Distres mempengaruhi perilaku hidup sehat. Individu yang hidup dengan distres kronis memiliki kebiasaan kesehatan yang lebih buruk. Perilaku kesehatan yang buruk termasuk merokok, gizi buruk, kurang tidur, kurangnya olahraga, dan penggunaan zat seperti obat-obatan dan alkohol.
  • Distres bisa membuat seseorang menghindari kontak sosial atau, lebih buruk lagi, mengurung diri dan Optimisme, harga diri, dan rasa kontrol pribadi juga berkontribusi terhadap kesehatan yang baik, namun stres dapat melemahkan keyakinan tersebut.
  • Individu yang mengalami distress cenderung menunda mencari perawatan untuk mengatasi gangguan yang dialami atau mereka mungkin tidak mencari perawatan sama sekali.

Lantas, Apa yang Perlu Kita Lakukan dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 ini dong Gaes?

  1. Melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) : konsumsi makanan yang bergizi, banyak minum air putih, selalu mencuci tangan dengan 6 langkah, mandi, berjemur saat pagi hari, olahraga ringan di rumah
  2. Melakukan etika batuk dengan benar (menggunakan masker dan/atau menggunakan siku bagian lengan dalam saat batuk ataupun bersin)
  3. Membatasi durasi penggunaan media social dan menonton berita terkait covid-19 (tentukan durasi lamanya Anda akan mengakses media tersebut)
  4. Mute / unfollow akun-akun yang hanya berisi ujaran kebencian, hoax, atau hal negative lainnya
  5. Tahan keinginan untuk langsung menyebarluaskan informasi tertentu. Cek terlebih dahulu kebenaran informasi yang diterima melalui berbagai sumber yang terpercaya lewat internet (website institusi resmi, WHO, dan sebagainya). Jangan mudah percaya pada berita-berita yang disebarluaskan dan belum jelas kebenarannya.
  6. Lakukan hobby atau kebiasaan yang menyenangkan bagi Anda, misalnya mendengarkan musik, memasak, menjahit, dll
  7. Menjaga jarak fisik saat berbicara dengan orang lain. Usahakan untuk menjaga jarak setidaknya 1,5 meter saat Anda berbicara dengan orang lain. Hindari kontak fisik secara langsung, seperti berjabat tangan, mencium pipi kanan-kiri
  8. Tetaplah berkomunikasi dan saling bertanya kabar dengan anggota keluarga maupun kerabat melalui telf, chat, video call
  9. Istirahat yang cukup untuk memulihkan kembali energi yang telah terpakai

Sumber literatur :

Taylor, S.E. (2015). Health Psychology 9th Ed. New York: McGraw Hill.

Parker, K. N., & Ragsdale, J. M. (2015). Effects of Distress and Eustress on Changes in Fatigue From Waking to Working. International Association of Applied Psychology, 3(7). Diakses dari https://doi.org/10.1111/aphw.12049

Penulis : Rami Busyra Ikram, M.Psi., Psikolog


artikel-2.jpg
02/Jan/2020

Author : Rami Busyra Ikram, M.Psi., Psikolog

 

 

Hai Gaes, siapa di sini yang pernah marah?

Duuuh setiap orang pasti pernah ya merasa marah. Sebetulnya apa sih marah itu?

Marah adalah salah satu bentuk emosi pada manusia. Emosi muncul dari bagaimana persepsi atau penilaian kita terhadap sesuatu, misalnya kita marah karena diledek “gendut”. Rasa marah muncul karena penilaian kita terusik oleh adanya penilaian dari orang lain. Rasa muruh juga bias muncul karena harapan atau ekspektasi kita tidak sesuai dengan kenyataan.

Emosi marah bias dipicu oleh situasi yang tidak nyaman serta disertai penilaian adanya ancaman. Marah bisa muncul karena ada penyebab nyata yang sedang dihadapi atau persepsi individu

Cara kita memandang dan menilai suatu peristiwa à memengaruhi seberapa besar intensitas marah yang dirasakan

Respon yang muncul dari adanya rasa marah : flight (pergi, menghindar) atau fight (melawan).

  • Sebetulnya emosi marah itu ada manfaatnya juga, yakni mendorong manusia mengatasi ketidakadilan, membantu manusia dalam mencari solusi dan menghadapi masalahnya, membantu manusia agar bertahan dalam menyelesaikan masalahnya

 

 

Ada hal-hal yang harus kamu ingat nih Gaes kalau lagi merasa marah

“Bukan tentang bagaimana cara menanganginya, tetapi bagaimana individu fleksibel menggunakan strategi tersebut dalam berbagai situasi, apakah respon kita membahayakan diri sendiri maupun orang lain atau tidak?”

Dampak jangka panjang akibat dari emosi marah yang meluap-luap

  • Terganggunya relasi interpersonal
  • Kekerasan domestic atau penganiyaan
  • Masalah hukum, putus sekolah, sulit mendapat pekerjaan
  • Adiksi obat-obatan
  • Masalah pada hampir seluruh aspek kehidupan
  • Ada keinginan untuk melukai diri sendiri
  • Muncul pemikiran atau percobaan bunuh diri

 

Cara yang Dapat Dilakukan untuk Mengelola Emosi Marah

  1. Kenali penyebab atau situasi yang dapat memunculkan emosi marah.
  2. Amati detak jantung, keringat, dan respon fisik lainnya
  3. Tarik napas sebanyak 4-7-8 hitungan
  4. Identifikasi kemungkinan lain yang bisa memengaruhi kondisi tersebut. Misal: ia bersikap seperti itu karena sedang terburu-buru ingin pulang ke rumah atau menyelesaikan tugas
  5. Periksa apakah pikiran “orang tersebut benci kepada kita” itu fakta atau persepsi pribadi? Bisa cek dengan tanya langsung kepada ybs, cek apakah ia setiap saat bersikap seperti itu, cek apakah ia selalu bersikap seperti itu hanya kepada kita, dll
  6. Minum air putih

 

Sumber : Cicarelli, S. K. (2006). Psychology. Upper Sadle River, NJ: Pearson

 

 

 


Jaga-Kesehatan-dengan-Selalu-Bahagia.jpg
27/Aug/2019

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kunci untuk menjaga kesehatan tubuh adalah dengan bersikap positif dalam menjalani hidup dan selalu bahagia. Lalu bagaimana bahagia bikin kesehatan terus terjaga?

Pengendalian emosi

Sebelum mengetahui jawabannya, Anda wajib tahu bahwa bahagia tidak hanya didorong oleh suasana hati yang baik, pekerjaan maupun lingkungan. Sejumlah ahli menyebutkan bahwa perasaan bahagia juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Karenanya, kondisi emosional seseorang bisa pasang surut, bagaimana pun kondisi yang sedang dialaminya.

Maka itu, kunci untuk tetap bahagia adalah dengan mengontrol pasang surut emosi di dalam diri. Profesor ilmu sosial dan perilaku di Harvard School of Public Health, Laura Kubzansky menyebutkan bahwa mampu mengontrol perubahan emosi menunjukkan bahwa Anda memiliki mental yang sehat.

Bahagia dan kesehatan fisik

Beberapa penelitian, termasuk yang dilakukan oleh Kubzanzky, telah menemukan hubungan antara kesehatan psikologis dengan kesehatan fisik seseorang. Kondisi psikologis dan emosi yang terkontrol disebut mampu menurunkan risiko seseorang terserang penyakit kardiovaskular – seperti penyakit jantung, stroke dan lainnya.

Mengutip CNN, tinjauan pada tahun 2012 untuk melihat hubungan antara rasa bahagia dan kesehatan tubuh telah dilakukan sedikitnya 200 penelitian. Sebagian besar hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara rasa bahagia, optimisme dan kepuasan dalam hidup terhadap kesehatan jantung. Kesimpulan dari penelitian-penelitian itu menyebutkan bahwa orang yang menjalani hidup dengan bahagia memiliki kesehatan jantung yang lebih terjaga.

Bahagia pangkal semangat

Tak hanya sampai di situ. Para peneliti juga menilai bahwa bahagia bukan hanya untuk menjaga kesehatan jantung belaka. Nyatanya, memiliki energi positif dan selalu berusaha untuk bahagia dapat membuat Anda melakukan kebiasaan yang baik.

Saat seseorang merasa bahagia, biasanya mereka akan sangat bersemangat dalam berolahraga, menjaga asupan makanan, hingga menjaga pola makan sehari-hari. Dengan ini, bukan hanya jantung, seluruh tubuh Anda pun pasti akan menjadi lebih sehat.

Dari kebiasaan-kebiasaan sehat tersebut, Anda mungkin akan mendapat bonus berupa tekanan darah lebih stabil, berat badan normal, dan menghindari penumpukan lemak.

tim puskesmas kembangan selatan jakarta barat

Selain melalui kebiasaan sehat, sejumlah peneliti berspekulasi bahwa keadaan mental positif memang memiliki efek langsung pada tubuh. Misalnya, studi oleh Kubzansky menemukan bahwa optimisme dikaitkan dengan tingkat peradangan yang lebih rendah.

Kini Anda tahu bahwa menjalani hidup dengan bahagia dapat membuat tubuh lebih sehat. Bukan tidak mungkin lebih panjang umur menjadi hadiah utama dari tindakan ini. Jadi, jangan ragu untuk membiasakan diri berbuat hal-hal yang bisa bikin bahagia mulai saat ini, ya!


Stres-Kerja.jpg
11/Jul/2019

Author : Rami Busyra Ikram, M.Psi., Psikolog

 

Gaes, pernahkah kamu merasa stress? Stress banyak tugas, banyak les, belum lagi ada kegiatan organisasi. Duuuuh, pusing banget deh ya pastinya ☹

Nah sebenarnya kamu udah paham belum, apa itu stress?

Menurut Taylor (2015), Stres adalah pengalaman emosional yang negatif disertai dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif, dan perilaku. Penyebab atau hal-hal yang bisa menimbulkan stress itu sendiri disebut stressor.

Gaes, tahu ga sih kalau stress itu sendiri dikelompokkan menjadi 2 lho. Pertama, eustress (stress positif yang mengarahkan diri lebih optimal dan semangat). Contoh eustress, misalnya, kamu stress saat mau menghadapi ujian, lantas jadi kamu berusaha keras untuk belajar dengan cara menyicil materi. Kedua, distress (stress negative yang mengganggu keberfungsian hidup), contohnya stress karena nilai ga sesuai harapan, terus kamu jadi ga mau dan males untuk belajar lagi.

Jadi udah kebayang dong ya stress yang bagus itu seperti apa?

Kenapa stress bisa memicu munculnya penyakit dalam tubuh, Gaes? Ini nih penjelasannya

Saat kamu sedang merasa stress, coba deh lakukan hal-hal berikut ini :

  • Relaksasi pernapasan (Tarik napas melalui mulut selama 4 hitungan, tahan 4 hitungan, dan hembuskan dari mulut selama 4 hitungan)
  • Membuat 2 kolom yang berisi konsekuensi positif dan negative dapat membantu dalam mengambil keputusan
  • Menginstrospeksi diri atau melakukan self-talk
  • Terbuka, memaafkan diri sendiri maupun orang lain
  • Melakukan kegiatan berdasarkan tingkat prioritasnya
  • Identifikasi kekuatan dan kekurangan diri
  • Menulis jurnal harian terkait prestasi atau hal-hal baik yang sudah dilakukan
  • Menulis jurnal terkait pengalaman menyenangkan
  • Bersosialisasi dan mengikuti kegiatan di lingkungan sosial
  • Melakukan hobi
  • Mencari bantuan tenaga professional, seperti guru sekolah, dokter, psikolog, dll

Sumber : Taylor, S.E. (2015). Health Psychology 9th Ed. New York: McGraw Hill.

 


Bullying_Bystander-Intervention-Skills_500x500.png
11/Jul/2019

Author : Rami Busyra Ikram, M.Psi., Psikolog

Hai Gaes, pernah dengar istilah “bullying”? rasanya sudah tidak asing lagi ya di telinga kita.

Menurut American Psychological Association (2019), bullying merupakan salah satu bentuk perilaku agresif yang disertai oleh adanya niat dan dilakukan secara berulang sehingga menyebabkan penderitaan atau perasaan tidak nyaman pada orang lain.

  • Coloroso (2007), terdapat 3 bentuk bullying :
  1. Bullying non-verbal : memukul, mencekik, menyikut, meludahi, mencakar, merusak barang-barang, dll
  2. Bullying verbal : memberikan julukan nama/celaan/fitnah, merampas barang, menuduh, berkata-kata kasar lewat lisan maupun tulisan
  3. Bullying relasional : diabaikan, dikucilkan, dijauhi dari pergaulan, termasuk sikap-sikap tersembunyi (pandangan mata yang agresif, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, dll
  4. Cyber-bullying : mengirim pesan yang menyakitkan melalui gambar, meninggalkan voicemail yang kejam, menelepon terus-menerus tanpa henti, membuat akun sosmed yang berisi hal-hal yang mempermalukan korban, dikeluarkan dari group chat, menyebarluaskan video-video bully terhadap korban

Hal apa aja sih yang membuat seseorang melakukan bullying atau kekerasan?

  • Hilangnya kontrol atas perasaan marah. Perilaku kekerasan seringkali terjadi saat individu tidak dapat mengelola dan mengendalikan emosi marahnya dengan baik
  • Interaksi, komunikasi yang tidak hangat dan tidak efektif (hanya satu arah). Dalam hal ini, seseorang tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau perasaannya oleh orang lain
  • Lebih mengedepankan emosi sehingga tidak dapat berpikir jernih
  • Kekerasan dilakukan oleh pelaku sebagai upaya untuk mendapatkan keinginan pribadinya dan melemahkan hak-hak pasangan atau anak

Bullying bisa terjadi pada siapa saja tidak hanya perempuan, tetapi juga laki-laki. Kasus kekerasan ini juga dapat terjadi dimana saja, misalnya rumah, sekolah, atau tempat-tempat umum.

Pelaku bullying juga bisa siapa saja, bahkan hingga orang-orang terdekat, dimana mereka seringkali melakukan pemerasan pelonco, premanisme, pemalakan, dikucilkan, dan ancaman, maupun eksploitasi.

Dari berbagai penelitian, ditemukan bahwa perilaku bullying atau kekerasan dapat menimbulkan dampak negative bagi individu yang mengalaminya, seperti :

  • Luka-luka atau muncul masalah medis yang serius
  • Mengalami depresi / kecemasan / ketegangan
  • Stres, enggan berkegiatan
  • Pikiran kacau, merasa tidak ada harapan / merasa tidak berdaya
  • Mimpi buruk, gelisah, masalah makan
  • Gangguan mental,
  • Menguatkan pikiran dan upaya bunuh diri
  • Adanya keinginan untuk membunuh orang lain

Negara sudah melarang keras terjadinya perilaku bullying, sehingga pelaku bullying bisa mendapat berbagai konsekuensi, misalnya mendapat skorsing atau drop out dari sekolah, sulit mendapat pekerjaan, mendapat hukuman penjara, dan sebagainya.

Nah kalian pasti ga mau dong kalau jadi korban atau pelaku bullying. Ngapain sih ikut-ikutan melakukan bullying?padahal kan dampaknya bahaya banget, duuuuh… ga usah deh ikut senioritas di sekolah, kalau mau dikenal sama orang lain—termasuk adik kelas—masih banyak cara positif lain yang bisa dilakukan kok ☺

Jadi apa dong yang harus kita lakukan apabila melihat orang lain menjadi korban bullying atau justru diri kita yang mengalaminya sendiri?

  1. Tatap mata lawan bicara
  2. Katakan dengan tegas apa yang kita rasakan
  3. Komunikasi asertif “I Message” (emosi yang kita rasakan, pengalaman atau situasinya, harapannya)
  4. Berteriak meminta tolong dan/atau menjauhi lokasi tempat kejadian
  5. Mengkomunikasikan dengan keluarga
  6. Menjauhi pelaku dengan menutup seluruh akses komunikasi dengannya
  7. Melaporkan kepada pihak yang berwajib, petugas keamanan di lingkungan rumah, dll
  8. Berkonsultasi dengan tenaga professional, misalnya dokter, psikolog, psikiater

Yuk, kita sama-sama cegah bullying di sekitar kita.

Sumber :

  1. APA. (2019). Dikutip dari https://www.apa.org/topics/bullying/
  2. Coloroso, B. (2007). Stop Bullying: Memutus Mata Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah hingga SMU (Terjemahan). Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta

 


logo-long

Alo Gaes merupakan media komunikasi yang berisi info-info kesehatan remaja, mulai dari isu pubertas, gizi, hingga kesehatan mental. Alo Gaes juga bisa lho sebagai sarana kamu berkonsultasi singkat atau tanya-tanya soal kesehatan fisik maupun mental dari ahlinya langsung. Kami juga terbuka untuk kamu-kamu yang mau kirim artikel atau hasil karya lain lho.

Konten Terbaru

WhatsApp chat
Ka Rami - Kesehatan Jiwa Ka Irma - Kesehatan Remaja Ka Micca - Penyakit Tidak Menular Ka Mira - TB Paru Ka Agnes - HIV Ka Pandji - Perawat Ka Dadang - Perawat Ka Desi - Gizi Ka Ery - Kesehatan Ibu dan Anak Ka Priska - Apoteker Ka Aulia - Kesehatan Mulut dan Gigi Teledentistry - Kesehatan Mulut dan Gigi