Content

Jangan lupa dishare ya Guys!

WhatsApp-Image-2020-04-24-at-10.23.39.jpeg
24/Apr/2020

Hai Gaes, apa kabarnya? Sudah memasuki bulan suci Ramadhan nih, di tengah situasi pandemi ini semoga kalian tetap sehat yaa.

Ramadhan kali ini memang terasa berbeda ya gaes, karena adanya COVID-19 yang melanda Indonesia dan dunia. Tetapi kondisi ini jangan menyurutkan niat kita ya gaes untuk menyambut datangnya Ramadhan dengan suka cita. Yukk lakukan perilaku hidup bersih dan sehat selama berpuasa. Ramadhan kali ini kita berbuka dan sahur di rumah aja bersama keluarga ya.

Nah bagaimana sih asupan makan kita selama bulan puasa dan ditengan situasi pandemic ini ? Yuk kita simak tipsnya yaa..

Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dan aman dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan resiko penyakit kronis dan penyakit infeksi.

  1. Apasih makanan dengan gizi seimbang ??

Secara umum, pengertian gizi seimbang adalah susunan asupan sehari-hari yang jenis dan jumlah zat gizinya sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pemenuhan kebutuhan gizi ini juga harus memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan mempertahankan berat badan normal guna mencegah masalah gizi. Gizi seimbang terdiri dari asupan yang cukup secara kuantitas, cukup secara kualitas, dan mengandung berbagai zat gizi seperti karbohidrat atau makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah-buahan yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan.

  1. Konsumsi Makanan Segar/ Tidak diawetkan

Nah disaat kondisi pandemic ini untuk kalian mengutamakan makanan segar yaaa, makanan segar itu sendiri artinya makanan yang belum dimasak atau di proses yaa.

  1. Minumlah Air yang cukup saat sahur dan buka puasa.

Meski puasa tubuh tetap butuh 2 liter cairan yang setara dengan 8 gelas/hari. Nah kalian bisa membagi nya nih gaes misalnya 2 gelas saat sahur,  2 gelas saat buka puasa dan 4 gelas di malam hari.

  1. Hindari konsumsi lemak dan minyak berlebih

Makanan tinggi lemak biasanya juga tinggi kalori, karena satu gram lemak setara dengan 9 kalori. Jadi, satu sendok teh minyak gorengan dapat diperkirakan menyumbang sekitar 45 kalori. Jika Anda rutin mengonsumsi makanan yang digoreng, bukan tidak mungkin lama kelamaan berat badan Anda akan bertambah, dan juga meningkatkan resiko penyakit jantung, kolesterol juga obesitas.

  1. Hindari konsumsi gula dan garam berlebih

Pasti kalian sudah tahu kalau terlalu banyak mengonsumsi garam bisa menyebabkan berbagai penyakit berbahaya, seperti stroke, jantung, gangguan ginjal, dan hipertensi. Nah agar tidak terkena penyakit-penyakit berbahaya tersebut, butuh berapa banyak garam tubuh kita per hari sebenarnya?

Berdasarkan rekomendasi nutrisi dari Health Canada, tubuh kita cuma membutuhkan 115 miligram sodium per hari untuk hidup sehat. Sebagai perbandingannya, 1 sendok teh garam mengandung 2.000 miligram sodium.

  1. Tips Olahraga saat puasa

Di tengah pandemi corona, penting untuk menjaga kebugaran tubuh meski sedang berpuasa. Meski sedang melakukan ibadah puasa, Anda masih bisa berolahraga. Selain menyehatkan, olahraga juga bisa menambah daya tahan tubuh. Berolahraga selama 30 menit di sore hari sekitar 60-90 menit dari waktu berbuka agar tidak terjadi  dehidrasi yang berlebih. Lakukan olahraga dengan intensitas ringan/sedang, seperti jogging, jalan kaki atau bersepeda. Sebaiknya jangan melakukan olahraga dengan intensitas tinggi selama puasa.

  1. Hindari makan diluar untuk menghindari kerumunan

Ada beberapa upaya mencegah penyebaran corona COVID-19. Satu di antaranya adalah menghindari kerumunan.  Nah jadi untuk kalian yaa gaes usahakan makanan yang kita beli untuk dikonsumsi dirumah aja, karena dengan begitu kita bisa memutus rantai penyebaran virus COVID-19.

Nah berarti untuk saat ini kalo ada teman kalian yang mengajak untuk berbuka bersama di hindari dulu ya gaess atau kalian bisa bukber dengan cara online


image-result-for-wus-kek-1200x1200.jpeg
11/Jul/2019

Related image

Apa itu kekurangan energi kronis (KEK)?

Kekurangan energi kronis (KEK) adalah masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan makanan dalam waktu yang cukup lama, hitungan tahun. Kondisi kurang energi kronik (KEK) biasanya terjadi pada wanita usia subur (WUS) yaitu wanita yang berusia 15-45 tahun.

Pada Wanita Usia Subur yang mengalami KEK biasanya memiliki status gizi kurang. Kekurangan energi kronis dapat diukur dengan mengetahui lingkar lengan atas dan indeks massa tubuh seseorang. Wanita Usia Subur yang mempunyai lingkar lengan atas yang kurang dari 23,5 cm dapat dikatakan ia mengalami kekurangan gizi kronis.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia tahun 2013, Kurang Energi Kronik (KEK) menjadi masalah yang kedua. Hal ini disebabkan karena angka KEK pada WUS yang hamil sebesar 24.2 % dan pada WUS tidak hamil sebesar 20.8% sedangkan pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia tahun 2018 masalah KEK mengalami penurunan yakni pada WUS yang hamil menjadi 17.3% dan pada WUS tidak hamil menjadi 14.5%.

Apa penyebab kekurangan energi kronis pada ibu hamil?

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seorang ibu hamil mengalami kekurangan gizi kronis, yaitu:

1. Asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan

Ibu hamil memerlukan asupan makanan yang lebih, tidak sama seperti wanita normal seusianya. Asupan makanan ini akan menentukan status gizi ibu hamil. Ketika ibu hamil tidak memenuhi kebutuhan energinya, maka janin yang dikandungnya juga mengalami kekurangan gizi. Hal ini membuat pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat.

2. Usia ibu hamil terlalu muda atau tua

Usia mempengaruhi status gizi ibu hamil. Seorang ibu yang masih sangat muda, bahkan masih tergolong anak-anak – kurang dari 18 tahun – masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Apabila ia hamil, maka bayi yang dikandungnya akan bersaing dengan si ibu muda untuk mendapatkan zat gizi, karena sama-sama mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Persaingan ini mengakibatkan ibu mengalami kekurangan energi kronis.

Sementara, ibu yang hamil di usia terlalu tua juga membutuhkan energi yang besar untuk menunjang fungsi organnya yang semakin melemah. Dalam hal ini, persaingan untuk mendapatkan energi terjadi lagi. Oleh karena itu, usia kehamilan yang sesuai adalah 20 tahun hingga 34 tahun.

3. Beban kerja ibu terlalu berat

Aktivitas fisik mempengaruhi status gizi ibu hamil. Setiap aktivitas membutuhkan energi, jika Ibu melakukan aktivitas fisik yang sangat berat setiap harinya sementara asupan makannya tidak tercukupi maka ibu hamil ini sangat rentan untuk mengalami kekurangan energi kronis.

4. Penyakit infeksi yang dialami ibu hamil

Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap status gizi hamil adalah kondisi kesehatan ibu saat itu. Ibu hamil yang mengalami penyakit infeksi, sangat mudah kehilangan berbagai zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Penyakit infeksi bisa mengakibatkan kekurangan energi kronis pada ibu hamil karena kemampuan tubuh untuk menyerap zat gizi menurun dan hilangnya nafsu makan sehingga asupan makan juga menurun.

Apa yang terjadi jika ibu hamil mengalami kekurangan energi kronis?

Kekurangan energi kronis (KEK) menyebabkan keluar masuknya energi tidak seimbang di dalam tubuh. sehingga, banyak gangguan yang akan terjadi jika seorang ibu mengalami KEK. Gangguan ini mengganggu kesehatan ibu maupun janin yang dikandungnya.

Seorang ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK) akan mengalami:

  • Merasa kelelahan terus-menerus
  • Muka pucat dan tidak bugar
  • Mengalami kesulitan ketika melahirkan
  • Ketika menyusui nanti, ASI ibu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, sehingga bayi akan kekurangan ASI

Sementara, akibat KEK yang bisa terjadi pada janin yang dikandung:

  • Keguguran
  • Pertumbuhan janin tidak maksimal menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dibawah 2500gr atau panjang badan < 48 cm.
  • Perkembangan semua organ janin terganggu, hal ini mempengaruhi kemampuan belajar, kognitif, serta anak berisiko mengalami kecacatan
  • Kematian bayi saat lahir

Cara mengatasi jika mengalami kekurangan energi kronis?

Untuk mengatasi masalah KEK pada wanita usia subur yang dilakukan adalah dengan cara :

  • Asupan makan harus sesuai dengan kebutuhan, banyak mengkonsumsi makanan sumber protein hewani ataupun nabati serta buah dan sayur. Terutama pada ibu hamil asupan makanan nya perlu ditingkatkan karena asupan yang dikonsumsi bukan hanya untuk ibu nya saja tapi juga untuk janin yang ada di kandungan nya
  • Selain itu, pada ibu hamil yang mengalami KEK diharuskan mengkonsumsi PMT untuk ibu hamil yang sudah disediakan oleh Kemenkes dan bisa diperoleh dari fasilitas Pelayanan Kesehatan seperti Puskesmas.
  • Untuk WUS harus selalu memantau Berat Badan dan jangan menganggap kalau kurus itu cantik melainkan itu tidak bagus untuk kesehatan.

 


0629LETTERS-articleLarge.jpg
11/Jul/2019

Apakah Obesitas Adalah Suatu Penyakit Atau Kecacatan Kesehatan?

Apa itu obesitas?

Obesitas adalah penumpukkan lemak yang tidak normal atau berlebihan di dalam tubuh. Kondisi ini jika dibiarkan terus menerus dapat memengaruhi kesehatan penderitanya. Ya, kondisi ini tidak hanya berdampak pada penampilan fisik penderitanya, tetapi juga meningkatkan risiko dalam kesehatan seperti penyakit jantungdiabetes, dan tekanan darah tinggi.

Obesitas dan berat badan berlebih (overweight) merupakan dua konsep yang berbeda. Overweight adalah kondisi di mana terdapat kenaikan berat badan berlebih. Namun demikian, kenaikan berat badan tidak hanya disebabkan oleh lemak berlebih, tetapi juga bisa disebabkan massa otot atau cairan dalam tubuh. Kondisi-kondisi tersebut dapat memberikan dampak berbahaya pada kesehatan.

Nah, bagaimana kita tahu bahwa kita adalah termasuk overweight atau obesitas ?

Jadi, Obesitas ditentukan dengan perhitungan IMT, namun tidak secara langsung mampu mengukur kadar lemak dalam tubuh. Cara perhitungan IMT adalah berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat dari tinggi badan dalam satuan meter. IMT yang sehat adalah yang dalam rentang 18,5–24,9 kg/m2. IMT yang berada di angka 25–29,9 disebut sebagai “overweight”, 30–34,9 disebut “obesitas kelas I”, 35,0–39,9 disebut “obesitas kelas II”, dan di atas 40 disebut “obesitas kelas III”.

Apa penyebab obesitas (kegemukan)?

Obesitas terjadi ketika tubuh mengonsumsi lebih banyak kalori daripada membakar kalori. Di masa lalu, banyak orang berpikir bahwa obesitas itu hanya disebabkan oleh makan berlebihan dan kurangnya berolahraga, karena kurangnya kemauan dan kontrol diri. Meskipun hal tersebut juga berkontribusi dalam menyebabkan obesitas, para ahli mengakui bahwa obesitas merupakan masalah medis yang kompleks dan melibatkan faktor genetik (keturunan), lingkungan, perilaku, dan sosial. Semua faktor ini berperan dalam menentukan berat badan seseorang.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, faktor genetik (keturunan) tertentu dapat menyebabkan perubahan nafsu makan dan metabolisme lemak yang memicu obesitas. Untuk orang yang secara genetik rentan terhadap kenaikan berat badan (misalnya, memiliki metabolisme yang lebih rendah) risiko menjadi obesitas tinggi.

Meskipun genetik seseorang dapat menyebabkan obesitas, itu bukan penyebab utama. Faktor lingkungan dan perilaku memiliki pengaruh yang lebih besar – mengonsumsi kalori dari makanan tinggi lemak dan melakukan aktivitas fisik sedikit atau tidak setiap hari berolahraga dalam jangka panjang akan menyebabkan penambahan berat badan. Faktor psikologis juga dapat menyebabkan obesitas. Rasa rendah diri, rasa bersalah, stres emosional, atau trauma dapat menyebabkan makan berlebihan sebagai sarana untuk mengatasi masalah.

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk obesitas (kegemukan)?

1. Genetik

Genetik alias keturunan adalah salah satu komponen terbesar yang bisa memicu obesitas. Anak dari orangtua yang obesitas jauh lebih berisiko mengalami obesitas dibanding anak yang orangtuanya memiliki berat badan ideal.

2. Junk food

Junk food adalah jenis makanan yang tinggi kandungan gula, lemak, garam, dan minyak. Kombinasi inilah, ditambah dengan wangi makanan dan berbagai paduan rasa lainnya, yang membuat makanan junk food terasa nikmat sehingga bikin ketagihan. Tanpa sadar, orang yang sering makan junk food menumpuk banyak kalori dan lemak di tubuhnya.

3. Obat-obatan tertentu

Banyak obat-obatan dengan/tanpa resep dokter dapat menyebabkan penambahan berat badan sebagai efek samping. Misalnya antidepresan yang sudah lama dikaitkan dengan kenaikan berat badan secara perlahan-lahan.

4. Stres

Siapa sangka, stres nyatanya juga bisa jadi penyebab obesitas. Ya, stres sangat mungkin menyebabkan obesitas. Pasalnya pada saat Anda mengalami stres, Anda akan lebih mudah untuk lebih banyak makan, terutama makanan manis, guna sekadar meredakan stres dan memperbaiki suasana hati.

Padahal tanpa disadari, konsumsi makanan di saat-saat seperti itu justru akan membuat Anda mengonsumsi makanan ebih banyak, yang pada akhirnya akan menumpuk kalori, gula, serta lemak di dalam tubuh. Nah, hal inilah yang menyebabkan Anda mengalami kenaikan berat badan

5. Malas gerak

Dengan adanya televisi, komputer, video game, mesin cuci, ponsel pintar, dan perangkat kenyamanan modern lainnya, hidup kebanyakan orang memang jadi lebih santai. Sayangnya, hal tersebut justru membuat banyak orang minim melakukan aktivitas fisik.

Padahal kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan perlambatan metabolisme dalam tubuh. Ya, semakin sedikit Anda bergerak, maka semakin pula kalori yang Anda bakar. Akibatnya, kalori akan lebih banyak menumpuk di dalam tubuh. Bahkan tak hanya soal kalori saja. Aktivitas fisik yang minum juga memengaruhi kinerja hormon insulin dalam tubuh. Jika kadar insulin dalam tubuh tidak stabil, maka erat kaitannya dengan penambahan berat badan.

6. Tidak cukup tidur

Kurang tidur dapat menyebabkan obesitas melalui peningkatan nafsu makan akibat dari perubahan hormonal. Jika Anda tidak cukup tidur, Anda menghasilkan Ghrelin, hormon yang merangsang nafsu makan. Kurang tidur juga mengakibatkan tubuh Anda memproduksi lebih sedikit Leptin, hormon yang menekan nafsu makan.

Penanganan Obesitas

Cara terbaik untuk mengobati obesitas adalah dengan makan makanan yang sehat, diet rendah kalori dan berolahraga secara teratur. Lakukan diet berisi makanan seimbang, mengontrol kalori, dan juga melakukan aktivitas fisik untuk meningkatkan pembakaran energi dan cadangan energi.

Pencegahan Obesitas

Langkah-langkah untuk mencegah kenaikan berat badan yaitu dengan olahraga harian, diet sehat, dan komitmen jangka panjang untuk mengawasi apa yang dimakan dan minum.

Berolahraga secara teratur berupa aktivitas intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit seminggu untuk mencegah penambahan berat badan.

Kegiatan fisik yang cukup intens termasuk berjalan cepat dan berenang. Ikuti rencana makan sehat, dengan fokus pada makanan rendah kalori, makanan padat nutrisi, seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian. Hindari lemak jenuh dan batasi permen dan alkohol. Makan tiga kali sehari dengan camilan terbatas.

Awasi dan pelajari makan sehari-hari dan selalu berat badan secara teratur dan konsisten.

Proses menurunkan berat badan tidak mudah dan singkat, serta penerapan pola hidup sehat juga tidak boleh dijadikan sementara. Hal yang terpenting adalah memiliki pola pikir bahwa gaya hidup sehat harus dilakukan terus-menerus, bila berat badan menurun itu adalah bonus dari tubuh yang sehat.

 

 

E:\shutterstock_789774898.jpg


logo-long

Alo Gaes merupakan media komunikasi yang berisi info-info kesehatan remaja, mulai dari isu pubertas, gizi, hingga kesehatan mental. Alo Gaes juga bisa lho sebagai sarana kamu berkonsultasi singkat atau tanya-tanya soal kesehatan fisik maupun mental dari ahlinya langsung. Kami juga terbuka untuk kamu-kamu yang mau kirim artikel atau hasil karya lain lho.

WhatsApp chat
Ka Rami - Kesehatan Jiwa Ka Irma - Kesehatan Remaja Ka Micca - Penyakit Tidak Menular Ka Mira - TB Paru Ka Agnes - HIV Ka Pandji - Perawat Ka Dadang - Perawat Ka Desi - Gizi Ka Ery - Kesehatan Ibu dan Anak Ka Priska - Apoteker Ka Aulia - Kesehatan Mulut dan Gigi Teledentistry - Kesehatan Mulut dan Gigi