Content

Jangan lupa dishare ya Guys!

Y1.jpg
14/Oct/2020

Halooo Gaes, apa kabar semua? Semoga tetap sehat semua ya walaupun pandemi masih melanda negeri tercinta kita ini, sehingga kita bisa menjalani siklus kehidupan kita dengan aman.

Ngomongin siklus hidup, kita semua tahu ya bahwa manusia itu mengalami siklus hidup sejak dari dalam kandungan, bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, lansia, dan akhirnya kembali pada Sang Pencipta.

Nah, kalian sekarang berada di fase remaja dan sebentar lagi memasuki fase dewasa. Pada umumnya pada fase dewasa muda manusia melakukan pernikahan agar bisa meneruskan keturunannya di alam semesta ini dengan bereproduksi.

Untuk tujuan mulia ini, artikel kita kali ini akan membahas persiapan aja sih yang harus disiapkan menjelang pernikahan? Pastinya banyak ya. Khusus bahasan ini, kita hanya akan membahas persiapan pranikah dari sisi kesehatan, yaitu kesehatan fisik dan mental. Simak sampai tuntas yaaaa..

Kesehatan Fisik

Setiap calon pengantin, khususnya di DKI Jakarta, diwajibkan menjalani konseling dan tes kesehatan sebelum melakukan pernikahan. Persyaratan ini tercantum dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Nomor 185 Tahun 2017 Tentang Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin. Pemeriksaan ini tidak dipungut biaya lho, dapat dilakukan di puskesmas dan menjadi syarat untuk mengurus pengantar menikah dari kelurahan.

Kegiatan ini merupakan bagian upaya pemenuhan hak reproduksi dan upaya meningkatkan derajat kesehatan, khususnya kesehatan ibu, sehingga dapat berkontribusi pada percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Jadi calon ibu yang sehat nantinya akan melahirkan anak-anak yang sehat yang akan menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.

Lalu, apa saja yang dilakukan saat melakukan konseling dan pemeriksaan kesehatan di puskesmas?

1. Anamnesis (wawancara oleh tenaga kesehatan)

Dilakukan untuk memperoleh keterangan-keterangan tentang keluhan dan penyakit yang diderita calon pengantin, baik riwayat penyakit terdahulu dan riwayat kesehatan keluarga.

2. Deteksi Dini Masalah Kesehatan Jiwa

Salah satu cara untuk mendeteksi masalah kesehatan jiwa yang relatif murah, mudah dan efektif adalah dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh WHO, yaitu Self Reporting Questionnaire (SRQ). Dalam SRQ ada 29 pertanyaan terkait gejala gangguan mental yang harus dijawab klien dengan jawaban ya atau tidak.

3. Pemeriksaan Fisik

Dilakukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi status kesehatan melalui pemeriksaan denyut nadi, frekuensi nafas, tekanan darah, suhu tubuh dan pemeriksaan seluruh tubuh. Selain itu dilakukan juga pemeriksaan status gizi yang meliputi pengukuran berat badan, tingggi badan, lingkar lengan atas dan tanda-tanda anemia.

4. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang (laboratorium) yang diperlukan oleh calon pengantin yaitu pemeriksaan darah: Hb, golongan darah dan Rhesus, gula darah, HIV, Infeksi Menular Seksual (sifilis), Hepatitis B,  dan atau pemeriksaan lain sesuai indikasi.

5. Konseling untuk meningkatkan pengetahuan calon pengantin

Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan , kesadaran dan kepedulian calon pengantin sehingga menjalankan fungsi dan perilaku reproduksi yang sehat dan aman.

Konseling diberikan sesuai kebutuhan calon pengantin meliputi :

  1. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
  2. Pengetahuan tentang kehamilan, pencegahan komplikasi, persalinan dan pasca salin
  3. Status kesehatan, gizi dan imunisasi
  4. Infeksi menular seksual serta HIV dan AIDS
  5. Deteksi Dini Kanker leher rahim dan kanker payudara
  6. Konseling HIV
  7. Konseling mengenai penyakit menular seperti Sifilis, Hepatitis, dll.
  8. Konseling Gizi
  9. Konseling kesehatan mental

6. Imunisasi untuk Calon pengantin

Calon pengantin perempuan perlu mendapat imunisasi TD untuk mencegah dan melindungi dirinya terhadap penyakit tetanus dan difteri sehingga memiliki kekebalan seumur hidup untuk melindungi ibu dan bayi yang akan dilahirkannya terhadap penyakit tetanus dan difteri

7. Pengobatan/Terapi dan rujukan

Pengobatan atau terapi diberikan pada calon pengantin sesuai dengan diagnosis/permasalahannya. Tatalaksana ini dapat diberikan di puskesmas maupun dilakukan rujukan ke RS bila permasalahannya tidak dapat diatasi di puskesmas.

Selesai melalukan pemeriksaan , calon pengantin akan mendapat secarik Sertifikat Layak Kawin‘.

Mau tahu syarat melakukan konseling dan pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin? Yuk hubungi  Call Center Puskesmas Kecamatan kembangan di Whats App 0811-1848-483 dan untuk mendaftar layanan konseling dan pemeriksaan kesehatan calon pengantin di Puskesmas Kecamatan Kembangan dapat melalui bit.ly//jalincinta 

Kesehatan Mental

Persiapan yang ga kalah pentingnya dibanding persiapan kesehatan fisik, yaitu kesehatan mental.

Mengarungi kehidupan rumah tangga tentunya bukan hal mudah, pasangan perlu belajar untuk :

  • Saling beradaptasi
  • Mendengar secara aktif
  • Identitas bukan lagi aku atau kamu, tetapi “kita”
  • Bersikap hangat dan mampu membina kedekatan emosional
  • Saling bergantung dan mengisi dalam situasi apapun
  • Saling percaya satu sama lain
  • Mengenali kebutuhan diri sendiri, pasangan, dan kebutuhan bersama
  • Melakukan komunikasi 2 arah

Terdengar mudah ya untuk disampaikan, namun belum tentu mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu kedua pasangan harus dapat saling menjaga rasa kebersamaan dengan :

  • Berani mengekspresikan pikiran dan perasaan
  • Tulus menyayangi dan mengasihi
  • Yakin dalam relasi bersama pasangan
  • Mampu memberikan rasa aman
  • Terbuka terhadap saran dan masukan dari pasangan
  • Bersedia berbagi tugas dan tanggung jawab

Hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengenali :

  1. Diri Sendiri
  • Kelebihan dan kekurangan diri
  • Sumber daya yang dimiliki
  • Cara pandang dan cara penyelesaian konflik
  • Cara memanfaatkan waktu luang
  • Pengelolaan emosi
  • Pengelolaan keuangan
  • Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga
  • Kebiasaan sehari-hari
  • Bahasa cinta
  • Harapan/impian
  1. Pasangan
  • Kelebihan dan kekurangan diri
  • Sumber daya yang dimiliki
  • Cara pandang dan cara menyelesaikan konflik
  • Cara memanfaatkan waktu luang
  • Pengelolaan emosi
  • Pengelolaan keuangan
  • Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga
  • Kebiasaan sehari-hari
  • Bahasa cinta
  • Harapan/impian
  1. Kita
  • Alasan mengapa ingin bersama
  • Tetapkan tujuan yang ingin dicapai bersama
  • Cara mencapai tujuan
  • Cara memanfaatkan waktu luang
  • Pembagian peran, tugas, dan tanggung jawab
  • Pengelolaan keuangan
  • Pengasuhan anak
  • Harapan/impian bersama

By the way…. Ada satu lagi informasi yang ga kalah penting ni, yaitu telah diterbitkannya Undang Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang “PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN. Dalam Undang Undang ini ada pasal yang diubah yaitu pasal 7 yang berbunyi “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun”.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah mengeluarkan Peraturan Gubernur yang senada, yaitu melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 tahun 2020 tentang “Pencegahan Perkawinan Pada Usia Anak”

Dengan dasar adanya 2 peraturan ini Puskesmas Kecamatan Kembangan tidak dapat melakukan Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin yang belum berusia 19 tahun.

So…. Buat kamu-kamu yang belum genap berusia 19 tahun,  woles aja ya gaes….Masih banyak hal positif yang bisa kamu lakukan sambil kamu memantapkan dan menyiapkan diri kamu untuk nantinya memasuki gerbang pernikahan, tentunya pernikahan sehat yang akan melahirkan generasi yang sehat juga 😉


alo5.jpg
18/Sep/2020

Author : Rami Busyra Ikram, M.Psi., Psikolog

 

Haloo Gaes, apa kabar kalian di tengah Pandemi COVID19 ini? Semoga selalu sehat dan bahagia yaa, tetap perhatikan protokol kesehatan dan beraktivitas di dalam rumah dulu yaa. Dalam artikel kali ini, kami akan membahas tipe pengasuhan orang tua terhadap anak-anaknya. Mungkin kita bisa mengamati tipe pengasuhan mana yang lebih dominan ada dalam keluarga kita. Ada baiknya kalian menyimak informasi ini dengan seksama  ya, silahkan ambil nilai positifnya yaa. Bila ada yang ingin ditanyakan atau didiskusikan lebih lanjut, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional ya, misalnya Psikiater atau Psikolog 🙂

  1. Authoritative (Bijak)
  • Aturan, ekspektasi, dan batasan yang diterapkan jelas dan konsisten sesuai usia anak
  • Mendorong anak untuk bertanggung jawab, tetapi tidak mengancam dan tidak  menghukum
  • Orang tua peka terhadap kebutuhan anak, menunjukkan sikap yang hangat
  • Mampu memberikan rasa aman dan otonomi yang sehat kepada anak  serta menunjukkan kasih sayang tanpa syarat

Konsekuensinya yaitu Anak tumbuh menjadi individu yang bertanggung  jawab, matang secara emosional, hangat, mau  terbuka, dan berkorelasi dengan perilaku hidup  sehat dan prestasi akademik yang baik

  1. Authoritarian (Otoriter)
  • Aturan, ekspektasi, dan batasan yang  diterapkan tidak  jelas dan sering berubah-ubah  tergantung  mood orang tua
  • Menyudutkan anak, menggunakan ancaman,  hukuman dengan dalih  “mendisiplinkan” anak
  • Kurang responsif terhadap kebutuhan akan perhatian, kehangatan, dan kasih sayang  anak
  • Kurang memberikan otonomi dan pilihan kepada anak, komunikasi minim, keputusan yang diambil adalah keputusan orang tua

Konsekuensinya yaitu Anak cenderung takut, sulit mengambil  keputusan secara mandiri, sulit kontrol  emosi, tidak mau terbuka, hingga  berani berbohong

  1. Permissive (Permisif)
  • Tidak ada / minim aturan, ekspektasi,  dan batasan
  • Selalu mengizinkan dan memenuhi keinginan anak tanpa  ada kontrol
  • Sangat hangat dan perhatian terhadap anak
  • Otonomi sepenuhnya ada pada anak

Konsekuensinya yaitu Anak cenderung manja, kurang  mandiri, sulit menunda keinginan  pribadi, rentan terhadap stres

  1. Neglect / Uninvolved (Mengabaikan / Cuek)
  • Tidak ada / minim aturan, ekspektasi,  dan batasan
  • Sangat cuek dan mengabaikan kebutuhan anak akan perhatian  dan kasih sayang
  • Tidak ada komunikasi 2 arah antara orang tua dan anak
  • Menganggap bahwa menyediakan kebutuhan dasar (uang, makan,  rumah) saja sudah cukup bagi anak

Konsekuensinya yaitu Hubungan dengan orang tua tidak dekat,  menumbuhkan rasa cemas pada anak, menilai  diri tidak diharapkan, cenderung menghindar  dari tanggung jawab, konsumsi makanan tidak  terkontrol

Sumber Referensi :

Boots, S. B., Tiggemann, M., Corsini, N., Mattiske, J. (2015).  Managing young children’s snack food intake. The role of parenting style and feeding strategies. Appetite, (92), 94–  101. http://dx.doi.org/10.1016/j.appet.2015.05.012.

Doinita, N. E., & Maria, N. D. (2015). Attachment and

Parenting Styles. Social and Behavioral Sciences, (203), 199 –  204. DOI: 10.1016/j.sbspro.2015.08.282


rokok7.jpg
14/Aug/2020

Alo gaes…. Apa Kabar?

Ada kegiatan apa nih di wilayah kalian buat memperingati Hari Kemerdekaan RI? Pastinya udah ga seseru tahun lalu ya, karena DKI Jakarta masih menerapkan PSBB. Ya, karena kasus COVID-19 masih tinggi di Jakarta. Masih bertambah ratusan kasus tiap harinya, sehingga tercatat sampai dengan tanggal 13 Agustus 2020 ada 27.761 kasus positif (sumber : www.coronajakarta.go.id) Artinya virus ini masih mengincar kita kita nih, khususnya yang punya perilaku hidup tidak sehat.

Salah satu perilaku hidup tidak sehat adalah merokok, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik. Menurut Dokter Spesialis Paru sekaligus Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dr. Feni Fitriani Sp.P(K), di dalam tubuh manusia ada reseptor yang disebut angiotensin converting enzyme 2 (ACE2), yaitu enzim yang menempel pada permukaan luar (membran) sel-sel beberapa organ seperti, paru-paru, arteri, jantung, ginjal dan usus. Pada perokok jumlah reseptor ACE2 ini lebih banyak 40 persen hingga 50 persen dibanding yang bukan perokok. Ketika virus SARS Cov-2 penyebab COVID-19 masuk ke dalam saluran pernapasan akan hinggap dan melekat pada ACE2. Makin banyak ACE2 dalam tubuh, makin besar pula virus Corona ini menempel dan masuk dalam tubuh. Penelitian di Wuhan, Tiongkok, menemukan pasien positif dan yang meninggal ternyata lebih banyak adalah perokok berat. Inilah yang menyebabkan perokok itu lebih berisiko tinggi terhadap COVID-19. (sumber : portal berita beritasatu.com).

Selain masalah pandemi, merokok juga dapat menyebabkan penyakit akibat rokok seperti gangguan pernapasan (PPOK, asma), gangguan kardiovaskuler (hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner), kanker, serta gangguan kehamilan dan reproduksi. Alhasil yang menderita penyakit seperti ini harus rutin bolak balik ke fasilitas kesehatan untuk mengendalikan penyakitnya. Repot ya? Tentunya ga cuma keluar biaya kan untuk proses ini, tetapi juga jadi boros waktu, alias jadi kurang produktif, termasuk produktifitas keluarga yang mengantar. Selain itu merokok juga mempengaruhi penampilan estetik seseorang, lho, seperti muka kusam, bibir cenderung hitam, nafas bau, serta karang gigi.

Nah….konsumsi rokok ini selain membahayakan kesehatan diri sendiri, juga dapat merugikan kesehatan orang lain yang bukan perokok lho… Data Riskesdas 2010, menunjukkan bahwa 92 juta warga Indonesia terpapar asap rokok orang lain (AROL), 43 juta diantaranya merupakan anak-anak, termasuk 11,4 juta anak usia 0-4 tahun. Padahal anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Kebayang kan kalau dari anak anak sudah terpapar asap rokok, dewasanya nanti jadi manusia yang sakit sakitan.

Data WHO 2010, Global Report on Non Communicable Disease (NCD) menunjukkan bahwa persentase kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) termasuk penyakit akibat rokok, menempati proporsi sebesar 63 %. Setiap 10 kematian, 2 diantaranya diakibatkan oleh rokok. Artinya secara umum perokok 10 tahun lebih dini meninggal dibanding bukan perokok. Ga aneh sih, karena ternyata dalam sebatang rokok, terdapat 200 bahan yang dapat menyebabkan bahaya kesehatan, 43 diantaranya dapat menyebabkan kanker. Serem kaaaaaaaan…

Situasi konsumsi rokok di Indonesia

Pada tahun 1970 konsumsi rokok di Indonesia berjumlah 30 miliar batang, sedangkan pada tahun 2009 jumlah tersebut meningkat sangat drastis menjadi 260 miliar batang atau meningkat lebih dari 700% dalam kurun waktu 40 tahun, hingga pada tahun 2015 persentase perokok laki-laki usia ≥ 15 tahun mencapai 66% jumlah penduduk (>90 juta orang).

Dan tahukah kamu, ternyata seseorang mulai merokok paling banyak mulai usia remaja, seperti kalian kalian ini. Kenapa? karena remaja adalah sasaran, remaja perokoklah yang nanti akan menjadi konsumen rokok pengganti perokok dewasa dan tua yang sudah meninggal, sehingga iklan rokok dibuat semenarik mungkin untuk menarik minat remaja, bahkan di beberapa tempat masih banyak pula kegiatan remaja yang disponsori produk rokok.

Saya sudah tahu bahaya merokok, ingin berhenti, tapi kok masih sulit ya?

Hebat lho kamu sudah punya keberanian dan niat berhenti merokok. Berhenti merokok memang tidak mudah, tapi kamu pasti bisa. Ada 2 cara yang bisa kamu lakukan untuk berhenti merokok, yaitu :

  1. Berhenti Seketika. Hari ini Anda masih merokok, besok Anda berhenti sama sekali. Untuk kebanyakan orang, cara ini yang paling berhasil.
  2. Berhenti secara bertahap. Mengurangi kecanduan rokok secara bertahap bisa dilakukan dengan menurunkan jumlah rokok yang dihisap setiap hari sampai akhirnya tidak merokok sama sekali. Di sini kamu harus punya target waktu kapan akan berhenti total dan berkomitmen dengan keputusan yang kamu ambil.

Nah…kalau kamu, cara berhenti merokok yang mana yang paling memungkinkan bisa kamu lakukan?

Berikut tips 8M yang bisa kamu lakukan untuk memudahkan proses berhenti merokokmu :

  1. Memohon doa
  2. Memiliki niat dan motivasi
  3. Minum air atau juice buah
  4. Membuat sesuatu
  5. Mengunyah sesuatu
  6. Menarik nafas panjang
  7. Menghindari nyala rokok
  8. Melakukan olahraga

Tak bisa dipungkiri, untuk menempuh cara berhenti merokok yang alami dan juga cepat, hanya satu kuncinya, yakni motivasi. Motivasi berhenti merokok harus ada jauh sebelum kamu benar-benar berhenti. Pasalnya alasan inilah yang nanti akan mencegah kamu untuk kembali mengonsumsi rokok.

Buatlah daftar alasan yang bisa mengubah hidupmu ketika kamu mencoba untuk berhenti. Buatlah alasan spesifik ataupun sederhana seperti “aku ingin berhenti merokok agar tak cepat capek ketika main futsal”, dan banyak alasan lain yang tentunya berbeda beda tiap orang.

Jadi tentukan motivasi berhenti merokokmu yang paling kuat dan berpotensi mengubah hidupmu di masa depan. Bila kamu menghadapi kendala, kamu bisa berkonsultasi ke Puskesmas Kecamatan Kembangan, kami sudah menyediakan layanan konseling berhenti merokok lho. Masih takut ke Puskesmas? Ga usah khawatir, kamu bisa konseling dahulu melalui WhatsApp, chat kami yaaaaa melalui WhatsApp Chat ALOGAES.

Upaya memotivasi diri, yuuk tonton Kisah Robby – Penderita Kanker Laring Akibat Merokok, yuuk copy link nya https://www.youtube.com/watch?v=WG-2L3fjCjk

Tetap sehat dan produktif yaa Gaes di tengah Pandemi COVID19 ini, lakukan hal yang menyenangkan dan bermanfaat di rumah. Stay Save, Stay Helthy


WhatsApp-Image-2020-07-10-at-16.51.13-1.jpeg
24/Jul/2020

Hallloooo Gaes,
⁣Pernahkah kalian mengalami sakit gigi di tengah Pandemi COVID19 ini? Baik itu gigi yang berlubang, goyang, dll yg menyebabkan nyeri dan tidak nyaman? Berencana pergi ke dokter gigi tapi takut keluar rumah?⁣

Naah menghadapi permasalahan ini, Puskesmas Kecamatan Kembangan meluncurkan Layanan Teledentistry, ini merupakan Layanan Poli Gigi di Era New Normal yang diluncurkan untuk menjawab pertanyaan pasien seputar keluhan gigi.⁣

Gimanaa caranya konsultasi online ini? Kalian cukup simpan nomor WhatsApp Layanan Teledentistry dan bisa hubungi kami setiap Senin-Jumat, pukul 08.00 – 12.00 WIB.⁣ Ikuti langkah-langkah dan ketentuan Teledentistry ya, semoga layanan ini bisa membantu Anda mendapatkan solusi terbaik dalam menghadapi sakit gigi di tengah Pandemi COVID19.


ss-1200x803.jpg
08/Jul/2020

Halo gaes….

Ga kerasa ya sudah bulan Juli lagi, itu artinya sudah hampir 4 bulan Indonesia dinyatakan mengalami pandemi virus Corona. Artinya pula sudah hampir 4 bulan ga ada kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Mulai bosan, mulai jenuh, mulai dialami oleh hampir semua orang.

“Kapan pandemi ini akan berakhir?”, mungkin hal ini yang terbesit di pikiran kita. Sampai detik ini tidak ada yang bisa menjawabnya, karena kasus positif masih ditemukan, bahkan jumlahnya makin banyak. Menunggu vaksin ditemukan? Pastinya butuh waktu yang cukup lama menemukannya. Dan kalaupun sudah ditemukan belum tentu kita bisa menggunakannya secepat itu.

Lantas bagaimana? Bukankah life must go on? Kita harus tetap aktif dan produktif?

Nah…untuk menjawabnya, pada hari Jumat, tanggal 3 Juli 2020  yang lalu, Puskesmas Kecamatan Kembangan mengadakan SPEAK 02 (Seminar, Promosi, dan Edukasi Kesehatan) khusus remaja dengan tema “TETAP HITS DI ERA NEW NORMAL”. Acara ini dilaksanakan secara online melalui Zoom dan streaming Youtube, dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta. Acara ini dimoderatori oleh dr. Irmawati selaku dokter Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas Kecamatan Kembangan dengan narasumber Narila Mutia Nasir, SKM., MKM., Ph.D, seorang dosen FIKES UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga Sekjend IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia).

Kak Tia (panggilan narasumber kita) memaparkan bahwa sejak ditemukannya kasus positif pertama di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 kasus corona positif makin meningkat jumlahnya (data s/d 2 Juli 2020 sebanyak 59.934 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 2.987). Artinya Indonesia masih berada di tengah pandemi. Pandemi yang pada awalnya diperkirakan akan berakhir di awal Juli ini nyatanya belum juga berakhir.

Pemerintah sudah menerapkan beberapa aturan untuk menekan laju penambahan kasus COVID-19 ini. Dari mulai PSBB sampai membatasi aktifitas tertentu seperti belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, larangan mudik, dll.

Sekarang kita mulai mendengar istilah new normal, era di mana kita harus bisa beradaptasi dengan tatanan dunia yang baru walaupun sedang mengalami pandemi. Menurut Kak Tia, cara terbaik yaitu dengan melakukan pencegahan. Ada 7 perilaku hidup sehat yang harus jadi kebiasaan agar kita bisa terhindar dari COVID-19 maupun penyakit lainnya.

7 Kebiasaan tersebut adalah :

  1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

Mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir dilakukan dengan 6 langkah. Kegiatan ini sangat efektif mencegah penularan karena virus corona memiliki selimut di bagian luar inti virus yang terdiri dari lemak. Dengan mencuci tangan menggunakan sabun lemak tadi bisa hilang sehingga virus tidak dapat menginfeksi. Hand sanitizer dapat digunakan bila kita sulit menemukan sabun atau air/ bila kita sedang bepergian.

  1. Menggunakan masker

Penularan virus corona ini dapat terjadi bila seseorang yang memiliki virus tersebut di tubuhnya mengeluarkan droplet yang berisi virus saat batuk maupun bersin. Penggunaan masker dapat mencegah masuknya virus tersebut ke tubuh orang lain.

  1. Menjaga jarak 1-2 m

Dengan menerapkan jaga jarak laju infeksi dapat ditena dari 12,8% menjadi 2,6%.

  1. Menerapkan etika batuk dan bersin

Menerapkan etika batuk dan bersin dapat mencegah penularan virus

  1. Mengonsumsi makanan sehat

Makanan dengan gizi seimbang akan membantu meningkatkan imunitas tubuh sehingga virus tidak dapat berkembang di dalam tubuh.

  1. Melakukan olahraga teratur

Olahraga yang teratur dengan intensitas sedang sebanyak 2-3x/minggu dengan selama 30 menit setiap kalinya dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh. Olahraga yang dianjurkan adalah olahraga yang dapat dilakukan di rumah. Lakukan olahraga dengan bahagia agar tbuh dapat memproduksi hormon endorfin yang dapat meningkatkan imunitas tubuh.

  1. Melakukan disinfektasi

Virus corona dapat bertahan beberapa lama dalam benda mati. Melakukan disinfektasi pada pakaian, peralatan rumah, dan lainnya secara teratur dapat membunuh virus.

7 kebiasaan tersebut harus dilakukan secara rutin setiap hari sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari hari, dan dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kita bisa melalui pandemi ini jika kita mematuhi semua protokol dan menjalankan 7 kebiasaan tadi secara kompak dan serentak.

Nah gaes… sudah siap semua menghadapi era new normal?

Keep healthy and be Happy


Picture1.png
26/May/2020

Gaes, peristiwa dalam hidup manusia tentu sangat bervariasi. Kesulitan dan “jatuh” dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup. Yuuk jadikan semuanya pengalaman dan bangkit kembali.

Setiap orang punya pengalaman sendiri loohh, misalnya :

  • Penyakit diabetes bagi pasien A dianggap sebagai hal yang biasa dan membuatnya justru semakin semangat menjalani hidup; namun bagi pasien B dianggap sebagai penyakit yang sangat menakutkan dan membuatnya merasa hidup tidak ada gunanya lagi.
  • Putus cinta bagi remaja X membuatnya sangat terluka hingga merasa diri tidak berguna dan sulit move on; sementara putus cinta bagi remaja Y dianggap sebagai hal yang wajar dalam sebuah hubungan dan ia dapat mencari pasangan baru dengan cepat
  • Sekolah/bekerja/kuliah secara online dirasa lebih menyenangkan, tenang dan nyaman bagi individu O, namun bagi individu P justru membuatnya sering tidak bisa berkonsentrasi

 

“Suatu kejadian menjadi sumber stress atau tidaknya bergantung pada persepsi atau penilaian individu terhadap peristiwa tersebut”

Lalu, apa yang dimaksud dengan Relisiensi ?

Mau dan siapkah saya untuk bangkit kembali?

 

Meningkatkan Relisiensi, bagaimana caranya?

Apa saja yang dibutuhkan dalam membangun dan meningkatkan Relisiensi ?

Sumber :

 

Author : Rami Busyra Ikram, M.Psi., Psikolog


fact-or-myth.jpg
22/May/2020

Haiii Gaes, apa kabarnya? Sudah memasuki penghujung bulan Ramadhan nih, masih di tengah Pandemi COVID-19 yang terjadi di hampir seluruh dunia.

Keterbatasan informasi seputar COVID-19 bahkan ketidakakuratan informasi yang beredar akhir-akhir ini tentunya akan menyulitkan setiap orang untuk mengetahui fakta yang sebenarnya.

Jika informasi yang tidak akurat tersebut terus beredar di masyarakat, hal ini akan membuat resah bahkan menyulitkan penanganan COVID-19. Masyarakat di seluruh dunia diharapkan hanya mengakses atau memperoleh informasi dari sumber-sumber terpercaya. World Health Organization (WHO) berharap agar mitos maupun informasi keliru yang beredar itu tidak meresahkan masyarakat.

Untuk itu, WHO memberikan berbagai penjelasan dan fakta untuk mematahkan mitos terkait COVID-19 yang beredar di masyarakat. Dari sekian banyak mitos yang beredar, berikut mitos dan fakta seputar COVID-19 :

  1. Mitos : Berjemur dengan suhu di atas 25 derajat Celcius bisa mencegah penyebaran COVID-19

Fakta : Berjemur di cahaya matahari atau dengan suhu di atas 25 derajat Celcius tidak dapat mencegah penyebaran virus COVID-19. Faktanya, negara tropis yang memiliki cuaca panas juga dikabarkan terjangkit COVID-19. Untuk melindungi diri dari bahaya penyebaran adalah dengan rutin mencuci tangan dan hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung

  1. Mitos : Mandi air panas bisa mencegah terkena virus COVID-19

Fakta : Mandi air panas tidak akan mencegah kita terkena virus COVID-19 , karena walaupun kita mandi dengan air panas suhu tubuh akan kembali ke suhu normal

  1. Mitos : Konsumsi minuman herbal seperti temulawak, jahe, serai, kunyit dapat mencegah tertular COVID-19

Fakta : Minuman herbal tersebut tidak dapat mencegah penularan COVID-19, namun bisa membantu tubuh melawan virus COVID-19. Kandungan curcumin didalamnya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh

  1. Mitos : Penyemprotan klorin atau alcohol pada kulit dapat membunuh virus dalam tubuh

Fakta : Menyemprotkan klorin atau alkohol ke tubuh dapat membahayakan, terutama jika terkena mata atau mulut. Meskipun Anda dapat menggunakan bahan kimia ini untuk mendisinfeksi permukaan, tetapi jangan pernah menggunakannya di kulit, karena tidak dapat membuh virus COVID-19 yang ada di dalam tubuh

  1. Mitos : Gejala COVID-19 mudah dikenali

Fakta : COVID-19 menyebabkan berbagai gejala, banyak diantaranya muncul seperti penyakit pernafasan lain, termasuk flu dan pilek. Secara khusus, gejala umum COVID-19 termasuk demam, batuk dan kesulitan bernafas, serta gejala yang lebih jarang, termasuk pusing, mual, muntah dan pilek. Dalam kasus yang parah, penyakit ini dapat berkembang menjadi radang paru-paru yang serius. Namun, pada awalnya orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali

  1. Mitos : Thermal Scanner bisa deteksi virus COVID-19

Fakta : Fungsi dari thermal scanner adalah untuk mendeteksi adanya peningkatan suhu, dan tentu saja alat ini tidak dapat mendeteksi virus COVID-19. Peningkatan suhu yang termasuk demam (38 derajat celcius keatas) adalah salah satu adanya infeksi. Kita tetap harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan tes laboratorium untuk mengetahui apakah kita terinfeksi virus COVID-19 atau tidak

  1. Mitos : Menahan napas selama 10 detik atau lebih tanpa batuk atau perasaan tidak nyaman, tandanya Anda terbebas dari COVID-19 atau penyakit pernapasan sejenis

Fakta : Bisa menahan napas selama 10 detik tidak berarti Anda terbebas dari COVID-19 atau penyakit pernapasan semacamnya. Gejala COVID-19 adalah batuk kering, kelelahan, dan demam. Beberapa orang bahkan bisa merasakan gejala-gejala tambahan lainnya, salah satunya adalah pneumonia. Cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang terjangkit corona atau tidak adalah dengan menjalani tes laboratorium.

  1. Mitos : Antiseptik tangan efektif bisa membunuh virus COVID-19

Fakta : Antiseptik tangan tidak 100% efektif untuk membunuh virus COVID-19. Ketika tangan kotor atau setelah melakukan aktivitas yang bisa menjadi penularan virus sebaiknya mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir

  1. Mitos : Covid-19 bisa menyebar lewat gigitan nyamuk

Fakta : Virus ini tidak dapat disebarkan melalui gigitan nyamuk. Virus hanya bisa ditularkan melalui tetesan penderita yang terinfeksi Covid-19.

  1. Mitos : Anak-anak tidak dapat tertular COVID-19

Fakta : Penyakit COVID-19 bisa terjadi pada siapapun tanpa memandang umur. Meskipun kasus COVID-19 yang terjadi pada anak lebih sedikit jika dibandingkan dengan orang dewasa

  1. Mitos : Terinfeksi corona berarti adalah akhir dari hidup Anda

Fakta : Anda bisa sembuh dari COVID-19. Terinfeksi Corona tidak berarti Anda akan membawa virus tersebut sepanjang hidup. Faktanya, banyak orang yang sudah terifeksi COVID-19 bisa pulih dan menghilangkan virus tersebut dari tubuhnya.

Gaes, dengan adanya penjelasan perihal Mitos dan Fakta terkait COVID-19 diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kalian yaa dan dapat diteruskan ke keluarga atau lingkungan terdekat kalian.

Stay Safe yaa Gaes, tetap ikuti peraturan pemerintah untuk tetap #dirumahaja.

Semoga Pandemi COVID-19 ini cepat selesai sehingga kita semua bebas melakukan aktivitas seperti biasa.


WhatsApp-Image-2020-04-24-at-10.23.39.jpeg
24/Apr/2020

Hai Gaes, apa kabarnya? Sudah memasuki bulan suci Ramadhan nih, di tengah situasi pandemi ini semoga kalian tetap sehat yaa.

Ramadhan kali ini memang terasa berbeda ya gaes, karena adanya COVID-19 yang melanda Indonesia dan dunia. Tetapi kondisi ini jangan menyurutkan niat kita ya gaes untuk menyambut datangnya Ramadhan dengan suka cita. Yukk lakukan perilaku hidup bersih dan sehat selama berpuasa. Ramadhan kali ini kita berbuka dan sahur di rumah aja bersama keluarga ya.

Nah bagaimana sih asupan makan kita selama bulan puasa dan ditengan situasi pandemic ini ? Yuk kita simak tipsnya yaa..

Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dan aman dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan resiko penyakit kronis dan penyakit infeksi.

  1. Apasih makanan dengan gizi seimbang ??

Secara umum, pengertian gizi seimbang adalah susunan asupan sehari-hari yang jenis dan jumlah zat gizinya sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pemenuhan kebutuhan gizi ini juga harus memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan mempertahankan berat badan normal guna mencegah masalah gizi. Gizi seimbang terdiri dari asupan yang cukup secara kuantitas, cukup secara kualitas, dan mengandung berbagai zat gizi seperti karbohidrat atau makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah-buahan yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan.

  1. Konsumsi Makanan Segar/ Tidak diawetkan

Nah disaat kondisi pandemic ini untuk kalian mengutamakan makanan segar yaaa, makanan segar itu sendiri artinya makanan yang belum dimasak atau di proses yaa.

  1. Minumlah Air yang cukup saat sahur dan buka puasa.

Meski puasa tubuh tetap butuh 2 liter cairan yang setara dengan 8 gelas/hari. Nah kalian bisa membagi nya nih gaes misalnya 2 gelas saat sahur,  2 gelas saat buka puasa dan 4 gelas di malam hari.

  1. Hindari konsumsi lemak dan minyak berlebih

Makanan tinggi lemak biasanya juga tinggi kalori, karena satu gram lemak setara dengan 9 kalori. Jadi, satu sendok teh minyak gorengan dapat diperkirakan menyumbang sekitar 45 kalori. Jika Anda rutin mengonsumsi makanan yang digoreng, bukan tidak mungkin lama kelamaan berat badan Anda akan bertambah, dan juga meningkatkan resiko penyakit jantung, kolesterol juga obesitas.

  1. Hindari konsumsi gula dan garam berlebih

Pasti kalian sudah tahu kalau terlalu banyak mengonsumsi garam bisa menyebabkan berbagai penyakit berbahaya, seperti stroke, jantung, gangguan ginjal, dan hipertensi. Nah agar tidak terkena penyakit-penyakit berbahaya tersebut, butuh berapa banyak garam tubuh kita per hari sebenarnya?

Berdasarkan rekomendasi nutrisi dari Health Canada, tubuh kita cuma membutuhkan 115 miligram sodium per hari untuk hidup sehat. Sebagai perbandingannya, 1 sendok teh garam mengandung 2.000 miligram sodium.

  1. Tips Olahraga saat puasa

Di tengah pandemi corona, penting untuk menjaga kebugaran tubuh meski sedang berpuasa. Meski sedang melakukan ibadah puasa, Anda masih bisa berolahraga. Selain menyehatkan, olahraga juga bisa menambah daya tahan tubuh. Berolahraga selama 30 menit di sore hari sekitar 60-90 menit dari waktu berbuka agar tidak terjadi  dehidrasi yang berlebih. Lakukan olahraga dengan intensitas ringan/sedang, seperti jogging, jalan kaki atau bersepeda. Sebaiknya jangan melakukan olahraga dengan intensitas tinggi selama puasa.

  1. Hindari makan diluar untuk menghindari kerumunan

Ada beberapa upaya mencegah penyebaran corona COVID-19. Satu di antaranya adalah menghindari kerumunan.  Nah jadi untuk kalian yaa gaes usahakan makanan yang kita beli untuk dikonsumsi dirumah aja, karena dengan begitu kita bisa memutus rantai penyebaran virus COVID-19.

Nah berarti untuk saat ini kalo ada teman kalian yang mengajak untuk berbuka bersama di hindari dulu ya gaess atau kalian bisa bukber dengan cara online


mental.jpg
02/Apr/2020

Hai Gaes, apa kabarnya? Di tengah situasi pandemic ini semoga kalian tetap sehat yaa. Bagaimana belajar di rumahnya?

Sebelumnya kan kita udah bahas tentang penyakit dari virus Covid-19, bagaimana dampaknya dengan kalian? Ada yang merasa stress ga? Mencari tahu informasi mengenai Covid-19 itu penting banget lho, supaya kita tetap waspada, tapi sebaiknya juga jangan berlebihan. Kenapa memang? Yuk kita baca ulasan berikut ini.

Hubungan antara Pikiran, Perasaan, dan Sensasi Tubuh / Fisik

  • Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa kesehatan fisik berhubungan erat dengan kesehatan mental. Begitu pula sebaliknya.
  • Di kondisi pandemic covid-19 ini, munculnya perasaan cemas dan takut merupakan hal yang normal
  • Cemas dan takut merupakan salah satu tanda pertahanan diri
  • Kedua emosi tersebut membuat kita lebih waspada terhadap bahaya memunculkan stress

Apa itu Stres?

  • Stres adalah pengalaman emosional yang disertai dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif, dan perilaku yang diarahkan baik untuk mengubah peristiwa yang dianggap stresful dan untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan
  • Stressor adalah stimulus, penyebab, atau hal-hal yang memunculkan stres
  • Stres dibagi menjadi 2, yakni eustress dan distres
  • Eustress : stress positif yang mengarahkan diri lebih optimal dan semangat, dilingkupi oleh emosi yang positif, masih dapat berfungsi dengan baik dan menjalankan aktivitasnya sehari-hari, contoh perilakunya adalah membaca berita tentang COVID19 dari sumber yang terpecaya sehingga tidak mudah terpancing oleh berita yang belum jelas kebenarannya.
  • Distress : Stress yang dapat mengganggu keberfungsian hidup, biasanya dilingkupi oleh emosi negative terus-menerus, keberfungsian hidup dan aktivitas sehari-hari menurun, contoh perilakunya adalah tidak mau mandi, tidak mau makan, tidak dapat membedakan mana info hoax mana yang bukan

Distress dapat mengganggu kesehatan

  • Distres menimbulkan efek fisiologis pada tubuh, seperti tekanan darah tinggi, imun tubuh menurun sehingga tubuh kesulitan untuk melawan infeksi
  • Distres mempengaruhi perilaku hidup sehat. Individu yang hidup dengan distres kronis memiliki kebiasaan kesehatan yang lebih buruk. Perilaku kesehatan yang buruk termasuk merokok, gizi buruk, kurang tidur, kurangnya olahraga, dan penggunaan zat seperti obat-obatan dan alkohol.
  • Distres bisa membuat seseorang menghindari kontak sosial atau, lebih buruk lagi, mengurung diri dan Optimisme, harga diri, dan rasa kontrol pribadi juga berkontribusi terhadap kesehatan yang baik, namun stres dapat melemahkan keyakinan tersebut.
  • Individu yang mengalami distress cenderung menunda mencari perawatan untuk mengatasi gangguan yang dialami atau mereka mungkin tidak mencari perawatan sama sekali.

Lantas, Apa yang Perlu Kita Lakukan dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 ini dong Gaes?

  1. Melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) : konsumsi makanan yang bergizi, banyak minum air putih, selalu mencuci tangan dengan 6 langkah, mandi, berjemur saat pagi hari, olahraga ringan di rumah
  2. Melakukan etika batuk dengan benar (menggunakan masker dan/atau menggunakan siku bagian lengan dalam saat batuk ataupun bersin)
  3. Membatasi durasi penggunaan media social dan menonton berita terkait covid-19 (tentukan durasi lamanya Anda akan mengakses media tersebut)
  4. Mute / unfollow akun-akun yang hanya berisi ujaran kebencian, hoax, atau hal negative lainnya
  5. Tahan keinginan untuk langsung menyebarluaskan informasi tertentu. Cek terlebih dahulu kebenaran informasi yang diterima melalui berbagai sumber yang terpercaya lewat internet (website institusi resmi, WHO, dan sebagainya). Jangan mudah percaya pada berita-berita yang disebarluaskan dan belum jelas kebenarannya.
  6. Lakukan hobby atau kebiasaan yang menyenangkan bagi Anda, misalnya mendengarkan musik, memasak, menjahit, dll
  7. Menjaga jarak fisik saat berbicara dengan orang lain. Usahakan untuk menjaga jarak setidaknya 1,5 meter saat Anda berbicara dengan orang lain. Hindari kontak fisik secara langsung, seperti berjabat tangan, mencium pipi kanan-kiri
  8. Tetaplah berkomunikasi dan saling bertanya kabar dengan anggota keluarga maupun kerabat melalui telf, chat, video call
  9. Istirahat yang cukup untuk memulihkan kembali energi yang telah terpakai

Sumber literatur :

Taylor, S.E. (2015). Health Psychology 9th Ed. New York: McGraw Hill.

Parker, K. N., & Ragsdale, J. M. (2015). Effects of Distress and Eustress on Changes in Fatigue From Waking to Working. International Association of Applied Psychology, 3(7). Diakses dari https://doi.org/10.1111/aphw.12049

Penulis : Rami Busyra Ikram, M.Psi., Psikolog


logo-long

Alo Gaes merupakan media komunikasi yang berisi info-info kesehatan remaja, mulai dari isu pubertas, gizi, hingga kesehatan mental. Alo Gaes juga bisa lho sebagai sarana kamu berkonsultasi singkat atau tanya-tanya soal kesehatan fisik maupun mental dari ahlinya langsung. Kami juga terbuka untuk kamu-kamu yang mau kirim artikel atau hasil karya lain lho.

Konten Terbaru

WhatsApp chat
Ka Rami - Kesehatan Jiwa Ka Irma - Kesehatan Remaja Ka Micca - Penyakit Tidak Menular Ka Mira - TB Paru Ka Agnes - HIV Ka Pandji - Perawat Ka Dadang - Perawat Ka Desi - Gizi Ka Ery - Kesehatan Ibu dan Anak Ka Priska - Apoteker Ka Aulia - Kesehatan Mulut dan Gigi Teledentistry - Kesehatan Mulut dan Gigi